hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Petani Binaan Kopsyah BMI Panen 302 Kilogram Mentimun

TANGERANG—Sejak pagi pukul 7.30 hingga sore hari, Rabu 28 Juli, sejumlah sepeda motor hingga mobil pick up berdatangan ke Desa Blukbuk, Kecamatan Kronjo, Kabupatan, Tangerang.

Mereka adalah para pembeli mentimun dari petani yang menjadi anggota yang dibina Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI).  Hari itu merupakan hari kedua, di mana petani memanen sekitra 302 kilogram mentimun di atas lahan seluas 3.500 meter persegi.

Petani kemudian memasukkan timun ke karung dan kantung plastik untuk ditimbang. Para pembeli adalah warga sekitar lahan dan anggota BMI.

Salah satu petani binaan Kopsyah BMI Suheri menyampaikan bahwa mereka puas atas hasil panen yang terbilang baik. Panen dilakukan setelah tanaman berumur 35- 60 hari. Masa panen dapat berlangsung 1 hingga 1,5 bulan.

“Panen bisa dilakukan setiap hari, minimal 3-4 buah per tanaman setiap kali petik. Alhamdulillah, lewat pendampingan dari BMI baik dalam bentuk sarana produksi pertanian, hama nyaris tidak ada, hanya daun kuning saja,” terang Suheri.

Dia menuturkan, buah mentimun layak petik adalah buah yang masak penuh dengan warna yang seragam mulai dari pangkal hingga ujung buah dan mencapai panjang optimal sesuai dengan varietasnya.

Sementara, staf divisi pemberdayaan anggota Kopsyah BMI Suhri Ghozali Lubis menjelaskan, selanjutnya hasil panen mentimun dibeli langsung di tempat oleh pengepul sayuran Rp3.500 dan Rp4.000 per kilogram.

Hasil keuntungan panen ini dilakukan bagi hasil secara musyarakah dengan komposisi 65 persen untuk petani dan 35 persen untuk Kopsyah BMI.

Suhri mengungkapkan, sejak awal budi daya hingga panen semua berjalan lancar. Petani ikut senang karena hasil produksinya mulai meningkat.

“Kami berterima kasih kepada para pengurus, pengawas dan pengelola Kopsyah BMI yang tak pernah absen memberikan motivasi dan pendampingan mulai dari awal hingga pemanenan hari ini,” paparnya.

Manager Pemberdayaan Anggota Kopsyah BMI, M Suproni menyatakan bahwa program pemberdayaan petani ini untuk meningkatkan kesejahteraan petani tentunya.”Mayoritas petani banyak yang di manfaatkan tengkulak di permodalan.

“Dengan hadirnya koperasi BMI ini berperan mensupport modal melalui pembiayaan musyarakah untuk memotong jalur tengkulak juga,” ucap Suproni.

Terpisah, Presiden Direktur Koperasi BMI Kamaruddin Batubara mengatakan, bagi Kopsyah BMI, koperasi adalah pemberdayaan anggota melalui pemanfaatan sumber daya yang dimiliki anggota.

Anggota Kopsyah BMI yang memiliki lahan harus diberdayakan, lahan tidak boleh menganggur dan petani anggota Kopsyah BMI harus sejahtera dari hasil pertanian ini.

Tujuan Kopsyah BMI memberikan pembiayaan ini adalah untuk memberdayakan petani agar terlepas dari tengkulak yang nyata-nyata merugikan petani.

Dalam hal ini BMI selain memberikan pembiayaan kami juga melaksanakan program pendampingan untuk meningkatkan hasil produksi.

Selain memutus mata rantai tengkulak, Kamaruddin mengatakan bahwa pembiayaan dan pemberdayaan Kopsyah BMI adalah meningkatkan lagi partisipasi para pemuda untuk kembali ke lahan.

Menurutnya, pembangunan desa akan sangat bergantung pada tenaga produktif, sehingga ketika tak ada lagi generasi muda yang mau mengerjakan lahan, maka kebutuhan pangan pasti akan disuplai dari luar.

”Dengan semakin banyak orang yang meninggalkan desa maka kebutuhan pangan mereka akan diimpor dari luar. Apalagi jika lahan tersebut diubah jadi kawasan properti atau lainnya. Desa yang dulunya eksportir pangan akan berubah menjadi importir,” tutup Kamaruddin.

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate