JAKARTA—-Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menilai pertumbuhan ekonomi kuartal III/2021 sebesar 3,51% lebih rendah dari ekspektasi berbagai pihak, termasuk pemerintah.
Hal ini didorong tekanan luar biasa pada sektor konsumsi, khususnya konsumsi rumah tangga. Padahal aspek konsumsi yang memiliki distribusi besar terhadap produk domestik bruto (PDB).
Dijelaskannya, pada kuartal III/2021, pengeluaran konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 1,03 persen (year-on-year/YoY), angka itu melambat dari kuartal II/2021 dengan pertumbuhan 5,96 persen (YoY).
“Konsumsi lembaga non profit yang melayani rumah tangga (LNPRT) pun sama, pada kuartal III/2021 tumbuh 2,96 persen (YoY), melambat dari kuartal II/2021 yakni 4,15 persen (YoY),” ungkap Tauhid dalam konferensi pers Tanggapan Indef Atas Capaian Ekonomi Kuartal III 2021 di Jakarta, Jumat (5/11/21).
Ke depan Indef memproyeksikan ekonomi kuartal IV-2021 akan tumbuh di rentang 3,5 persen sampai 4 persen jika dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).
“Angka pertumbuhannya naik sedikit dari realisasi kuartal III 2021,” ucap Tauhid.
Tauhid menyampaikan proyeksi ini berdasarkan beberapa pertimbangan, di antaranya yakni dorongan hari raya yang masih lemah dan masih adanya ancaman Covid-19 gelombang ketiga.
Momen hari raya pada akhir tahun ini diperkirakan tak terlalu mendorong aktivitas ekonomi kuartal IV 2021, karena pemerintah masih akan menahan mobilitas dengan menghapuskan libur cuti bersama pada Hari Raya Natal.
“Bahkan enghapusan libur tersebut akan sangat mempengaruhi tingkat konsumsi masyarakat, baik di sektor pariwisata, maupun makanan dan minuman. Begitu juga dengan ancaman gelombang ketiga Covid-19 di akhir tahun juga menyebabkan beberapa sektor tidak bisa beroperasi 100 persen,” pungkasnya.








