JAKARTA— Badan Pusat Statistik merilis Ekonomi Indonesia tahun 2020 mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 2,07 persen (c-to-c), jauh di bawah pertumbuhan 2019 yang mencapai 5,02 persen.
Dari sisi produksi, kontraksi pertumbuhan terdalam terjadi pada Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan sebesar 15,04 persen. Sementara itu, dari sisi pengeluaran hampir semua komponen terkontraksi, Komponen Ekspor Barang dan Jasa menjadi komponen dengan kontraksi terdalam sebesar 7,70 persen. Pada sisi Impor Barang dan Jasa yang merupakan faktor pengurang terkontraksi sebesar 14,71 persen.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan kontraksi ini dipengaruhi oleh pelemahan di berbagai sektor ekonomi karena pandemi Covid-19.
Menurut dia kalau dilihat perekonomian di berbagai negara pada triwulan IV membaik dibanding sebelumnya meski perkembangannya masih lemah.
“Banyak indikator yang bisa dilihat, salah satunya indeks Purchasing Managers Index atau PMI yang menunjukkan penguatan di Oktober, namun kembali melemah November dan Desember,” ujar Suhariyanto dalam konferensi pers secara virtual, Jumat (5/2/ 21).
Suhariyanto juga mengatakan, perekonomian Indonesia 2020 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp15.434,2 triliun dan PDB per kapita mencapai Rp56,9 Juta atau 3.911,7 dolar AS.
Rilis BPS ini tak jauh beda dengan apa yang diproyeksikan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), yaitu pertumbuhan ekonomi sepanjang 2020 akan berada pada negatif 2,2 persen hingga 2,1 persen.
Penanganan pandemi Covid-19 dari sektor kesehatan dinilai menjadi faktor yang menghambat laju pemulihan ekonomi tahun lalu.
Pada penghujung 2020, LPEM FEB UI mencatat munculnya beberapa kabar positif yang memicu pertumbuhan sentimen positif oleh investor terhadap prospek ekonomi ke depan. Di antaranya, hasil pemilu Amerika Serikat (AS) dan mulai bergulirnya vaksin secara masal di seluruh dunia.
Kinerja pasar keuangan dan mata uang yang sangat baik pada akhir tahun lalu memberi kesan bahwa ekonomi semakin membaik.
Hanya saja kata Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky, tidak ada pemulihan ekonomi yang berkesinambungan dan berkelanjutan tanpa diiringi perbaikan dari sisi kesehatan maupun angka kasus harian.
“Kondisi Indonesia saat ini secara rapi mengilustrasikan kontradiksi ini,” kata Riefky dalam Kajian Indonesia Economic Outlook Q1-2021 yang dirilis Rabu (3/2/21).








