Demokratisasi ekonomi dipraktikan oleh Koperasi BMI Group dimana mata rantai ekonomi dimulai dari anggota, oleh anggota, dan untuk anggota. Koperasi berperan sebagai akselerator bisnis.
Koperasi dapat lebih unjuk gigi jika mampu memenuhi seluruh kebutuhan anggotanya mulai dari urusan keuangan sampai produk barang. Selain itu, koperasi juga perlu menguasai mata rantai perekonomian dari produksi hingga distribusi barang dan jasa sampai ke tangan anggota atau konsumen. Agenda besar dengan kredo Sirkuit Ekonomi ini yang tengah dikembangkan Koperasi BMI Group.
Seperti diketahui, Koperasi BMI Group terdiri dari empat koperasi yaitu satu koperasi sekunder (Koperasi Benteng Madani Indonesia), dan tiga koperasi primer (Kopsyah Benteng Mikro Indonesia-Kopsyah BMI; Koperasi Konsumen Benteng Muamalah Indonesia-Kopmen BMI; dan Koperasi Jasa Benteng Mandiri Indonesia-Kopjas BMI).
Kamaruddin Batubara, biasa disapa Kambara, Presiden Direktur Koperasi BMI Group sekaligus Direktur Utama Kopsyah BMI mengatakan, melalui sinergi dalam Koperasi BMI Group diharapkan dapat memperkuat sirkuit ekonomi. “Ekonomi harus berputar dari anggota, oleh anggota, dan untuk anggota,” ungkap Kambara di sela Diklat Asmen Manajer Kopsyah BMI, 1 Oktober 2022.
Penguatan sirkuit ekonomi dapat diilustrasikan saat anggota ingin memiliki rumah maka pembiayaannya berasal dari Kosyah BMI. Sementara pengadaan barang material bangunan didukung oleh Kopmen BMI, dan tukang bangunannya disediakan oleh Kopjas BMI. Dengan demikian, perputaran barang dan uang hanya di lingkup Koperasi BMI Group.
Dalam skala lebih luas, Koperasi BMI Group juga bertindak sebagai akselerator bisnis di berbagai wilayah melalui BMI Point, salah satu divisi Kopmen BMI. Ambil contoh, buah manggis dari Jambi atau durian Medan dipasarkan di daerah Cirebon. Pun demikian dengan komoditas lainnya sehingga usaha anggota produsen dapat terakselerasi oleh anggota lainnya atau masyarakat sebagai konsumen.
“Kita percaya koperasi bisa memenuhi semua kebutuhan anggota. Saat ini BMI Point telah ada di Jawa dan Sumatera yang menjadi akselerator bisnis berbagai wilayah. Produk dari Semarang bisa dipasarkan di Jambi tau sebaliknya. Inilah yang kita sebut sirkuit ekonomi yang baru dimana koperasi harus maju tanpa perlu membuat lembaga usaha berbentuk PT,” tegas Kambara.
Komitmen memperkuat sirkuit ekonomi Indonesia pada dasarnya pengembangan dari filosofi koperasi Bung Hatta dan implementasi Al-Quran surat Al Maidah ayat 2. Untuk diketahui, Bung Hatta berpesan bahwa koperasi diusahakan oleh orang biasa saja yang bekerjasama di atas beberapa sifat tertentu yakni jujur dan setia kawan. Semangat bekerja sama atau kolaborasi ini yang melandasi berjalan baiknya sirkuit ekonomi.
Sementara dalam nukilan surat Al Maidah ayat 2, Allah memerintahkan umat Islam untuk tolong-menolong dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Kesadaran etis inilah yang menjadikan koperasi harus dibangun dengan konsep tolong – menolong dan kekeluargaan.
Meski demikian, Kambara mengakui, realitas koperasi Indonesia masih jauh dari koperasi ideal sebagaimana dicita-citakan oleh Bung Hatta tersebut. Sebagai contoh, masih banyak koperasi yang tidak melakukan RAT. Menurut Kambara, setidaknya ada tiga hal yang menjadi sebabnya yaitu kurangnya kesadaran berkoperasi dari anggota dan pengurus; persoalan pajak; dan beban biaya RAT yang cukup tinggi. “Ini menjadi pekerjaan rumah bersama yang perlu dibenahi, utamanya oleh pemerintah,” pungkasnya.
Jika konsep sirkuit ekonomi yang diimplementasikan oleh Koperasi BMi Group dapat diduplikasi dalam skala lebih luas seperti level negara bukan mustahil Indonesia akan lebih berdaulat dan tidak akan tergantung pada produk-produk impor yang membebani rakyat. (Kur).








