hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Peringatan Bank Dunia: Resesi Global di Depan Mata

Harga energi yang lebih tinggi sudah membebani Jerman—ekonomi terbesar di Eropa dan terbesar keempat di dunia. Negara-negara berkembang juga terpengaruh oleh kekurangan pupuk, makanan dan energi.

DAMPAK serangan Rusia ke Ukraina bisa berbuntut serius bagi masyarakat internasional. Diprediksi resesi global lantaran harga pangan, energi, dan pupuk melonjak. Makanya, sejumlah negara produsen bahan pangan juga sudah melakukan pembatasan ekspor. India, misalnya, telah melarang ekspor gandumnya sejak awal Mei kemarin.

Terbaru, India juga membatasi ekspor gulanya sebesar 10 juta ton. Argentina telah lebih dulu melarang ekspor gandum dan jagung produksinya. Hungaria, Serbia, dan Bulgaria juga membatasi ekspor produk bahan pangannya, seperti gandum, jagung, dan biji-bijian. Semua negara yang membatasi ekspor bahan pangannya punya tujuan yang mirip. Yakni menjaga kebutuhan dalam negeri dan lonjakan harga pangan.

Kenaikan harga pangan dan energi akan membuat inflasi terbakar. Ujungnya, bank-bank sentral akan menaikkan suku bunganya, sehingga penyaluran kredit melambat dan pertumbuhan ekonomi global tertahan. Serangkaian tindakan lockdown (penguncian) di Cina, kata Ketua Bank Dunia, David Malpass, menambah pula kekhawatiran tentang perlambatan itu. Menurut dia, ekonomi dunia mungkin akan mengalami kontraksi.

“Saat kita melihat PDB global, sulit sekarang untuk melihat bagaimana kita menghindari resesi. Kenaikan harga energi dua kali lipat sudah cukup untuk memicu resesi dengan sendirinya,” kata Malpass. Bulan lalu, Bank Dunia memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi global untuk tahun ini hampir satu poin persentase penuh, menjadi 3,2%. PDB (produk domestik bruto) adalah salah satu cara terpenting untuk melihat seberapa baik atau buruk kinerja ekonomi.

Kenyataannya, banyak negara Eropa masih terlalu bergantung pada Rusia untuk minyak dan gas. Bahkan ketika negara-negara Barat terus maju dengan rencana untuk mengurangi ketergantungan mereka pada energi Rusia. Pada sebuah acara virtual yang diselenggarakan oleh Kamar Dagang AS, Malpass menilai langkah Rusia memotong pasokan gas dapat menyebabkan perlambatan substansial di wilayah Eropa.

Harga energi yang lebih tinggi sudah membebani Jerman, yang merupakan ekonomi terbesar di Eropa dan terbesar keempat di dunia. Negara-negara berkembang juga terpengaruh oleh kekurangan pupuk, makanan dan energi. Malpass juga menyuarakan keprihatinan tentang penguncian di beberapa kota besar di Cina—termasuk pusat keuangan, manufaktur dan pengiriman Shanghai—yang katanya masih memiliki konsekuensi atau dampak terhadap perlambatan pada dunia.

“Cina sudah mengalami beberapa kontraksi real estat, sehingga perkiraan pertumbuhan Cina sebelum invasi Rusia telah melemah secara substansial untuk 2022. Kemudian gelombang Covid menyebabkan penguncian yang semakin mengurangi ekspektasi pertumbuhan untuk Cina,” tuturnya.

Sementara itu, Perdana Menteri China Li Keqiang mengatakan ekonomi terbesar kedua di dunia itu telah terpukul lebih keras oleh putaran penguncian terakhir daripada pada awal pandemi pada tahun 2020. Dia juga menyerukan lebih banyak tindakan oleh pejabat untuk memulai kembali pabrik setelah penguncian. “Kemajuannya tidak memuaskan,” kata Li.

“Beberapa provinsi melaporkan bahwa hanya 30% bisnis yang telah dibuka kembali. Rasionya harus dinaikkan menjadi 80% dalam waktu singkat,” ujarnya. Penguncian penuh atau sebagian diberlakukan di lusinan kota di Cina pada bulan Maret dan April, termasuk penutupan panjang Shanghai. Langkah-langkah tersebut telah menyebabkan perlambatan tajam dalam kegiatan ekonomi di seluruh negeri.
Dalam beberapa minggu terakhir, angka resmi menunjukkan bahwa sebagian besar ekonomi telah terpengaruh, dari produsen hingga pengecer.●

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate