
PeluangNews, Jakarta – Pergerakan pasar modal Indonesia turut tertekan akibat eskalasi perang antara Iran dan Israel yang memicu gejolak di pasar keuangan global.
Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik meminta pelaku pasar tetap tenang dan rasional dalam mengambil keputusan investasi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik di timur tengah itu.
“Investor perlu tetap bersikap tenang dan rasional dalam mengambil keputusan,” kata otoritas bursa tersebut.
Menurut Jeffery, gejolak pasar dalam situasi seperti ini umumnya dipicu oleh sentimen jangka pendek dan pergeseran persepsi risiko, sehingga fluktuasi harga tidak selalu mencerminkan kondisi fundamental perusahaan sebenarnya.
Karena itu, penting bagi investor untuk tetap berpegang pada analisis fundamental, termasuk kinerja keuangan, prospek bisnis, arus kas, serta posisi utang emiten.
Keputusan investasi sebaiknya tidak didasarkan pada kepanikan atau spekulasi sesaat, melainkan pada perhitungan yang matang.
“Menghadapi ketidakpastian yang meningkat akibat eskalasi geopolitik yang terjadi di tingkat global, kami menghimbau investor tetap rasional dan selalu memperhatikan fundamental,” ungkap Jeffrey kepada wartawan, Senin (2/3/2026).
Dia menegaskan, strategi investasi perlu disesuaikan dengan profil dan toleransi risiko masing-masing investor.
“Sesuaikan strategi investasi dengan toleransi risiko masing masing investor,” kata dia.
Untuk diketahui Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada perdagangan Senin ini. Per pukul 11.00 WIB, indeks terkoreksi 148,607 poin atau turun 1,80 persen ke level 8.086,878. Sejak pembukaan di posisi 8.092,905, IHSG sempat menguat terbatas hingga menyentuh level tertinggi 8.133,692.
Tetapi tekanan jual kembali mendominasi pasar dan mendorong indeks turun hingga menyentuh posisi terendah 8.039,508, sebelum akhirnya bergerak di kisaran 8.080-an.
Aktivitas perdagangan terbilang ramai dengan volume mencapai 29,556 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp14,739 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat 1.919.861 kali transaksi. Namun secara breadth market, tekanan masih dominan dengan 651 saham melemah, 105 saham menguat, dan 57 saham stagnan.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai memanasnya konflik di Timur Tengah mendorong pasar masuk ke fase risk-off. Investor global cenderung keluar dari aset berisiko dan mengalihkan dana ke instrumen yang lebih aman. []








