
PeluangNews, Jakarta – Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Panjaitan memproyeksikan bahwa harga minyak mentah global bisa melonjak tajam hingga US $150 per barel jika eskalasi perang Timur Tengah semakin besar dalam waktu dekat.
Karena itu, pemerintah membuat tiga skenario utama yang menggambarkan kemungkinan arah harga minyak dunia, bergantung pada perkembangan konflik dalam satu hingga dua Minggu ke depan.
Konflik Iran dan Israel membuat pemerintah menyiapkan berbagai kemungkinan terhadap pergerakan harga minyak dunia.
“Kita lihat perkembangan dalam satu hingga dua minggu ke depan. Jadi saya kira selama Lebaran, semua akan baik-baik,” kata Luhut saat memberikan laporan kepada Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jumat (13/3/2026).
Mantan Meno Maritim dan Investasi itu mengatakan, setiap skenario menggambarkan tingkat eskalasi konflik yang berbeda, mulai dari perang yang membesar, konflik berkepanjangan, hingga meredanya ketegangan militer di kawasan itu.
Dalam skenario paling berat, perang diperkirakan meningkat dalam satu hingga dua pekan mendatang sehingga harga minyak berpotensi melonjak ke kisaran US $110 hingga US $150 per barrel, atau sekitar Rp1.815.000 sampai Rp 2.475.000 per barrel.
Melalui skenario itu, konflik diperkirakan melibatkan serangan langsung Iran terhadap aset Amerika Serikat (AS) di kawasan Teluk.
Selain itu, Selat Hormuz berpotensi ditutup lebih dari tujuh hari yang dapat memicu lonjakan biaya asuransi kapal dan gangguan distribusi energi global.
Situasi juga dapat diperparah oleh serangan besar kelompok proksi serta kegagalan proses transisi politik yang diharapkan terjadi di Iran.
“Kemudian juga kalau kita lihat, eskalasi ini ke gagal total Dewan Transisi, karena mereka berharap akan terjadi transisi di Iran. Tapi kalau itu sampai gagal terus Pak, ya itu juga tidak mudah untuk mengatasinya. Tapi saya tanya daripada mereka, mereka optimis itu akan terjadi, perlu kita cermati saja,” tambahnya.
Selanjutnya, pemerintah juga memproyeksikan kemungkinan konflik berlangsung lebih lama tanpa eskalasi besar.
Dalam kondisi ini harga minyak diperkirakan bergerak di kisaran US $80 hingga US $110 per barrel, atau sekitar Rp1.320.000 sampai Rp 1.815.000 per barrel.
Dalam situasi konflik berkepanjangan itu, ketegangan diperkirakan memicu pembatasan akses di Selat Hormuz, serangan presisi terbatas yang terus berlangsung, negosiasi yang berjalan lambat, serta sanksi yang diperketat terhadap Iran.
Pada saat yang sama, Iran diperkirakan akan memulihkan sebagian kapasitas rudal dan drone mereka.
Sementara itu, skenario ketiga adalah deeskalasi konflik. Jika ketegangan militer menurun atau tercapai gencatan senjata, produksi dan ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah diperkirakan kembali normal.
Dalam kondisi tersebut, harga minyak dunia diproyeksikan turun ke kisaran US $65 hingga US $80 per barrel atau sekitar Rp1.072.500 hingga Rp 1.320.000 per barrel.
“Harga minyak Brent kalau kita lihat juga akan menurun di sini. Dan tadi Menko Perekonomian sudah jelaskan bahwa kita punya keuntungan harga CPO dan semua juga naik,” tambah Luhut.
Meski menyiapkan berbagai skenario, DEN menilai kondisi ekonomi nasional saat ini masih relatif terkendali. Pemerintah juga terus memantau perkembangan geopolitik global sambil menjaga stabilitas kebijakan fiskal. []







