
PeluangNews, Jakarta – Perang yang terjadi di Timur Tengah membuat harga minyak dunia melonjak tajam dan mencapai level tertinggi sejak krisis keuangan 2008. Kenaikan ini juga didorong ketatnya pasokan global akibat gangguan distribusi energi.
Sejak serangan militer besar-besaran oleh Amerika Serikat dan Israel ke Iran secara terbuka dimulai 28 Februari 2026, dampaknya bukan hanya pada masalah bahan bakar minyak (BBM) tetapi juga sektor lain antara lain pariwisata.
Khusus BBM, mengutip CNBC pada Jumat (3/4/2026), lonjakan harga minyak tercermin dari harga spot minyak mentah Brent untuk pengiriman fisik yang mencapai US $141,36 per barel pada Kamis (1/4/2026). Demikian menurut data S&P Global.
Harga spot yang mencerminkan permintaan minyak Brent yang akan dikirim dalam waktu dekat, yakni sekitar 10 hingga 30 hari ke depan.
Lonjakan harga minyak untuk pengiriman cepat ini menunjukkan pasokan minyak fisik global saat ini berada dalam kondisi sangat ketat.
Kondisi tersebut dipicu gangguan besar pada pasokan energi setelah Iran menutup Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia.
Harga spot tersebut tercatat US $32,33 lebih tinggi dibandingkan kontrak berjangka (futures) minyak Brent untuk pengiriman Juni, yang ditutup di level US $109,03 per barel pada hari yang sama.
Menurut Pendiri Energy Aspects, Amrita Sen, harga di pasar berjangka justru memberikan gambaran yang menyesatkan.
“Harga futures seolah memberi rasa aman palsu bahwa kondisi tidak terlalu tegang,” kata Sen.
Dia mengungkapkan, pasar keuangan saat ini cenderung menutupi ketatnya pasokan yang sebenarnya sudah terlihat jelas di pasar fisik.
“Ketegangan itu nyata, tetapi pasar finansial seperti menyamarkannya, padahal di sektor lain dampaknya sudah terasa,” ujarnya.
Dia mengutarakan bahwa harga solar di Eropa saat ini hampir mencapai US $200 per barel, mencerminkan tekanan yang sangat tinggi di pasar energi.
Sebelumnya, CEO Chevron Mike Wirth juga telah mengingatkan bahwa harga futures belum mencerminkan besarnya gangguan pasokan akibat penutupan Selat Hormuz.
Wirth menambahkan, pergerakan pasar saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh informasi yang terbatas dan persepsi pelaku pasar.
“Ada dampak fisik nyata dari penutupan Selat Hormuz yang menyebar ke seluruh dunia dan sistem energi global. Namun hal itu belum sepenuhnya tercermin dalam kurva harga futures minyak,” ucap dia ya. []








