hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Penguatan Sektor Riil Lewat Transformasi Bisnis

Kopdit Pintu Air sedang mengembangkan produk berbasis keunggulan lokal antara lain minyak kelapa dan garam. Ini merupakan salah satu bentuk dukungan terhadap program Bela Beli Sikka untuk membangun kemandirian ekonomi.

Inovasi menjadi kata kunci untuk bisa tetap bertahan di era disrupsi seperti saat ini. Ini pula yang disadari oleh Pengurus KSP Kopdit Pintu Air. Koperasi yang didirikan pada 1995 di dusun Rotat Maumere Nusa Tenggara Timur ini melakukan transformasi dengan melakukan pemisahan kelembagaan unit usaha dengan membentuk badan hukum baru atau dikenal dengan istilah spin off.

Yakobus Jano, Ketua Umum Kopdit Pintu Air mengatakan, setelah sukses dengan usaha simpan pinjam, kini pihaknya semakin gencar melakukan penetrasi di sektor riil. “Kami telah melakukan spin off untuk meningkatkan penetrasi usaha di sektor riil,” ujar Jano.

Strategi spin off merupakan jalan untuk mengatasi batasan peraturan yang mensyaratkan KSP hanya bergerak di satu bidang usaha saja yaitu simpan pinjam. Dengan pemisahan itu, koperasi menjadi lebih lincah untuk merambah ke sektor riil. Ini juga merupakan dukungan Kopdit Pintu Air terhadap program Pemkab Sikka dalam kredo Bela Beli Sikka. Sehingga masyarakat menjadi lebih produktif dan sejahtera karena perputaran uang beredar lebih banyak di daerah.

Salah satu bidang usaha yang kini dikembangkan oleh Kopdit yang baru saja ditahbiskan sebagai kopdit terbaik di Indonesia ini adalah minyak kelapa dan garam. Pendirian unit usaha rumah produksi dan pengolahan minyak kelapa mentah dilatarbelakangi oleh kondisi para petani anggota selama ini yang mengalami kesulitan akibat merosotnya harga penjualan komoditas kopra. Ini memberatkan kehidupan para petani yang notabene merupakaan anggota koperasi.

Saat ini produksi minyak kelapa dengan merek Pintar telah mendapatkan sertifikasi halal dan tengah memproses sertifikasi dari BPOM RI dan sertifikasi Standar Nasional Indonesia. Sedangkan untuk produksi garam juga masih dalam proses perizinan. Potensi garam di NTT sangat besar dan sudah diakui oleh Pemerintah bisa membantu mengurangi ketergantungan terhadap impor.  Jika tidak ada aral melintang, rencananya pada 28 Oktober nanti kedua produk tersebut akan diluncurkan.

Dalam spektrum yang lebih luas, tekad Kopdit Pintu Air untuk menggarap sektor riil sejalan dengan program pemerintah pusat untuk memperkuat kemandirian. Sehingga aktivitas ekonomi tidak lagi bergantung pada impor tetapi mengandalkan produk lokal. Pada muaranya akan terjadi redistribusi kesejahteraan yang menguntungkan masyarakat setempat sekaligus meningkatkan ketahanan ekonomi daerah.

Pengembangan usaha sektor riil, kata Jano, bukanlah hal baru bagi koperasi yang kini memiliki aset sebesar Rp1,1 triliun itu. Cikal bakalnya bermula dari pendirian kios sederhana di samping kantor pada awal 2000-an. Selanjutnya berkembang menjadi swalayan, jasa transportasi, pariwisata, dan media Ekora NTT. “Sektor riil akan terus kami kembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan anggota,” ungkap Jano.

Berkat inovasi yang dilakukan, kepercayaan masyarakat terhadap koperasi pun terus membubung. Ini dibuktikan dengan bertambahnya jumlah anggota yang kini sebanyak 270 ribu anggota. Padahal, 25 tahun silam saat pertama didirikan, kopdit ini hanya beranggotakan 50 orang saja. Namun dengan semangat swadaya dibawah pimpinan Jano Kopdit Pintu Air semakin berkembang.

Selain kinerja finansial yang terus bertumbuh, jaringan kantor cabang pun meluas. Kini, Kopdit Pintu Air memiliki 52 kantor cabang. Bukan hanya di NTT saja, tetapi kantor cabang juga berdiri di Manado dan Jakarta.

Perambahan usaha ke sektor riil memberi pesan bahwa 25 tahun ke depan Kopdit Pintu Air akan lebih lengkap layanannya dibandingkan lembaga perbankan, asuransi maupun lembaga pembiayaan (multifinance).

Selain itu, Kopdit Pintu Air ingin mencapai tonggak kebangkitan (milestone) berikutnya setelah keberhasilannya membangun kantor pusat yang megah berlantai tiga

di tempat asal kelahirannya dusun Rotat desa Ladogahar, Kecamatan Nita, NTT.  Ini merupakan bukti dari komitmen untuk membersamai dan mengembangkan usaha anggota.

Seperti diketahui, meski berada di desa namun kantor pusat itu tidak kalah menterengnya dengan gedung perkantoran-perkantoran di kota besar. Yang lebih menarik, gedung kantor itu dibangun dengan uang senilai harga ayam potong dua ekor dari tiap-tiap anggota.

Harga satu ayam potong adalah Rp50.000. Sehingga kalau dua ekor ayam potong berarti Rp100.000. Sedangkan untuk pengurus dan manajemen masing-masing menyumbang sebesar Rp200.000. “Sejak awal pijakan kami untuk bergerak adalah semangat swadaya, inilah yang menjadi karakteristik utama pengembangan usaha kopdit,” ungkap Jano.

 Pembangunan gedung kantor yang megah itu juga bukan sekadar untuk gagah-gagahan. Tetapi memberi pesan kepada khalayak bahwa dengan bersatu orang kecil pun bisa membuat sesuatu yang mengagumkan. Inilah salah satu legacy membanggakan yang akan terus dikenang hingga generasi berikutnya.

Jano setidaknya telah memper-kokoh pondasi pengembangan usaha Kopdit Pintu Air yang tidak hanya bertumpu pada usaha simpan pinjam. Selama seperempat abad silam telah membuktikan bahwa ia mampu memimpin kopdit dengan sangat baik. Gelar Kopdit Terbaik

di Indonesia tahun 2020 merupakan salah satu bukti keberhasilannya. Dan kini, 25 tahun mendatang akan menjadi milestone berikutnya apakah spin off akan semakin membesarkan usaha koperasi kebanggaan NTT ini.  (Kur)

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate