
PeluangNews, Gresik – Penguatan sektor perikanan di daerah sentra dinilai menjadi kunci dalam menjaga ketahanan pangan nasional, terutama untuk memastikan ketersediaan sumber protein hewani berbasis ikan. Badan Pangan Nasional (Bapanas) menilai produksi yang berkelanjutan di tingkat daerah akan berdampak langsung pada stabilitas pasokan dan harga di tingkat konsumen.
Direktur Pengawasan Penerapan Standar Keamanan dan Mutu Pangan Bapanas, Hermawan, menegaskan sektor perikanan memiliki kontribusi penting dalam menopang kebutuhan protein masyarakat sebagai bagian dari strategi diversifikasi pangan.
“Dari sisi pangan nasional, yang kami dorong adalah terjaganya ketersediaan dan stabilitas pasokan ikan. Ikan merupakan sumber protein berkualitas yang perlu terus diperkuat konsumsinya sebagai bagian dari diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal,” ujar Hermawan saat mendampingi Kunjungan Kerja Komisi IV DPR RI di Gresik, Jawa Timur, Senin (23/2/2026).
Menurutnya, kesinambungan produksi di kawasan sentra seperti Gresik akan memperkuat fondasi pasokan ikan nasional. Hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang mendorong masyarakat mengonsumsi pangan lebih beragam dan tidak bergantung pada satu komoditas.
Ia menambahkan, penguatan tidak hanya dilakukan di sektor hulu, tetapi juga di hilir melalui jaminan keamanan dan mutu pangan, pengembangan produk olahan, serta distribusi yang efisien.
“Selain penguatan di aspek hulu, penguatan di hilir juga sangat penting melalui jaminan keamanan dan mutu pangan, pengembangan produk olahan, serta distribusi yang efisien. Dengan demikian, produksi yang kuat di daerah dapat benar-benar berdampak pada peningkatan konsumsi dan perbaikan gizi masyarakat,” tambahnya.
Sebagai salah satu sentra perikanan nasional, Gresik memiliki potensi signifikan dalam mendukung pasokan protein ikan. Luas lahan budidaya tercatat 28.653,27 hektare yang terdiri dari tambak payau dan tambak tawar, dengan lebih dari 20 ribu pembudidaya di 16 kecamatan. Sepanjang 2025, produksi ikan budidaya mencapai sekitar 160.439 ton dengan nilai produksi sekitar Rp3,54 triliun. Komoditas bandeng menjadi andalan dengan produksi sekitar 90 ribu ton per tahun.
Dalam kesempatan yang sama, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani menyampaikan bahwa kembalinya alokasi pupuk subsidi membawa optimisme baru bagi petambak setelah sempat menghadapi ketidakpastian dalam beberapa tahun terakhir.
“Beberapa tahun petambak sempat mengalami kegelisahan akibat dicabutnya pupuk subsidi, sementara tambak adalah tulang punggung ekonomi pesisir Gresik. Dengan kembalinya alokasi subsidi ini, kami optimistis produktivitas bisa kembali optimal, khususnya bandeng sebagai komoditas unggulan daerah,” ujar Yani.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Panggah Susanto, menjelaskan kebutuhan pupuk untuk budidaya perikanan telah masuk dalam program subsidi nasional sekitar 29.500 ton dan akan terus diperkuat dari sisi validitas data serta ketepatan distribusi.
“Aspirasi dari Gresik sudah kami bahas dalam Panja Pupuk dan resmi masuk dalam program subsidi nasional. Tahun ini kebutuhan pupuk untuk budidaya perikanan dialokasikan sekitar 29.500 ton secara nasional. Ini bentuk komitmen kami agar sektor perikanan tidak tertinggal,” tegas Panggah.








