
PeluangNews, Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan, pemangkasan produksi batu bara dalam Rencana Kerja dan Anggaran Belanja (RKAB) 2026 dimaksudkan untuk mendongkrak harga di pasar global.
Rencana penurunan produksi batu bara juga untuk merespons hukum ekonomi terkait supply and demand.
“Jadi kalau kita produksinya banyak, permintaannya sedikit, harganya murah. Kita buat aja keseimbangan. Berapa konsumsi, itu yang diproduksi,” kata Bahlil dalam sesi kuliah umum di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Menurut dia, Indonesia punya kuasa untuk membatasi produksi batu bara, karena negara menyuplai 43-45% komoditas itu di pasar internasional.
Namum, sayang harga batu bara acuan ditentukan oleh pihak asing.
“Ini karena total batu bara kita, konsumsi dunia itu 8,9 miliar ton. Sedangkan yang diperdagangkan hanya 1,3 miliar ton,” ujar dia.
Bahlil mengungkapkan, Indonesia menyuplai batu bara keluar negeri 560 juta, 43 sampai 44%. Tapi harganya bukan kita yang kendalikan.
“Ini kan abuleke namanya. Maka saya bilang, kalau begitu kita pakai hukum ekonomi, supply and demand,” kata Bahlil, menegaskan.
Dia menganggap misinya itu terkendala oleh pengusaha di sektor terkait. Karenanya Bahlil meminta agar rencana pemangkasan dalam RKAB bisa dimengerti, agar Indonesia punya peran lebih vital dalam perdagangan batu bara ke depan.
“Nah masalahnya adalah pengusaha-pengusaha kita, teman-teman saya ini sudah terlalu terbiasa dengan produksi banyak terus. Saya katakan, bos, negara ini bukan milik kita saja. Ada anak cucu kita,” kata dia, menegaskan.
“Kalau memang belum laku dengan harga baik, ya jangan dulu kita produksi secara masif. Kasih tinggal anak cucu kita ini. Suatu saat kita meninggal, mereka ini yang melanjutkan perjuangan negara ini. Jangan di saat mereka memimpin, barang udah habis karena kelakuan kita. Udah gitu jual murah lagi,” ucap Menteri ESDM Bahlil, menambahkan. []








