BANDA ACEH—Tidak banyak pelaku UKM yang terjun membuat bumbu masak, mungkin karena berhadapan dengan produk branded. Tetapi pasangan suami istri Edi Sandra Sahputra dan Darfina adalah di antara “minoritas” yang justru memilih produk ini sebagai usahanya pada 2016.
“Kami terlebih dahulu melakukan percobaan pada cita rasa bumbu, di antaranya mencari cara bagaimana membuat bumbu bubuk yang kering dan ternyata percobaan berhasil. Alhamdullilah kami mulai produksi menggunakan peralatan sederhana dengan menghabiskan hanya Rp150 ribu untuk bahan baku,” tutur Edi kepada Peluang, melalui Whatsapp, Kamis (11/3/21).
Usaha yang berbasis di Desa Deah Glumpang, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh ini memilih brand Meurasa. Dalam bahasa Aceh berarti “nikmat banget” dan juga terkait dengan nama Kecamatan Meuraxa.
Lanjut Edi, perbedaan dengan produk sejenis adalah bumbu Meurasa dibuat dari rempah alami tanpa penyedap buatan (MSG) juga tanpa pengawet buatan. Bumbu ini bisa bertahan selama 18 bulan.
Bumbu Meurasa merupakan racikan sendiri dengan standarisasi yang baik sehingga rasa yang dihasilkan tetap setiap waktu.
Sambutan pasar cukup baik. Rata-rata produksi per bulan sebanyak 5000 pieces dengan harga satuan Rp7.500 per pieces dan omzet per bulan rata-rata Rp30 juta.
“Pada 2018 sampai 2019, bumbu Meurasa sudah kita pasarkan ke seluruh indonesia secara daring, malah kita kirim di beberapa negara dalam skala kecil, seperti Malaysia, Singapora, Australia, dan Amerika,” ungkap Edi.
Pandemi Covid-19 sangat berdampak pada produk Meurasa. Dampaknya sangat berpengaruh pada bahan baku yang merupakan rempah asli. Harga bahan baku tidak stabil dan naik tinggi sehingga UKM Ini tidak mampu produksi secara normal.
Untuk menguatkan pemasaran produk Meurasa, Edi menggandeng UKM yang lain membentuk usaha bersama dalam wadah koperasi. Ke depan, dia berharap dengan adanya koperasi produk Meurasa bersama produk UKM lainnya bisa lebih baik dalam pemasaran (Van).








