Dua penemuan intan terbesar di Asia tercatat tahun 1965 dan 2008. Dua-duanya di Martaputa, Kota Intan.Dua-duanya dari endapan placer. Sumber primer intan Borneo masih misteri.
KEMILAU intan Martapura terpantau dari pusat kota. Di sana terdapat pasar tradisional yang sejak dulu menjual batu permata dan komoditas lain, yakni Pasar Martapura atau dikenal sebagai “Pasar Batuah”. Pada 1970-an los pasar intan dibangun di tengah-tengah Pasar Martapura. Selanjutnya, pertengahan 1990-an dibangun pula kompleks pertokoan Cahaya Bumi Selamat (CBS) untuk melengkapi los-los permata sebelumnya.
Perdagangan intan di Kalimantan Selatan berlangsung sejak awal abad XVII. Saat Martapura menjadi ibukota, Kerajaan Banjar mencapai puncak kejayaannya. Di masa itu, pertambangan intan merupakan hak raja. Raja bisa memberikan sebagian tanah kerajaan sebagai apanase kepada anak-anaknya. Apanase (Prancis: apanage) atau daerah lungguh adalah titipan tanah milik raja yang diberikan sebagai kompensasi kepada putera bungsunya karena tahta akan jatuh ke putera sulung. Setiap rakyat menemukan intan sebesar 4 karat harus dijual pada raja atau pemilik apanase.
Penguasaan pertambangan intan oleh raja dihapuskan oleh Belanda. Sebagai gantinya, selain eksploitasi oleh swasta, pertambangan rakyat pun tumbuh dan terus bertahan hingga kini. Mereka menambang dengan cara mendulang. Jika beruntung, hasilnya luar biasa. Penambangan intan terus berlangsung hingga sekarang. PT Aneka Tambang menginisiasi penambangan intan di daerah Cempaka, Banjarbaru, Kalsel pada tahun 1970.
Pada 29 Agustus 1965, di Cempaka, Banjar, ditemukan intan 166,7 karat seberat 33,2 gram yang oleh Presiden Soekarno dinamai Intan Trisakti. Intan terbesar pertama yang ditemukan di Kalimantan disusul 4 dekade kemudian. Pada 1 Januari 2008, intan 200 karat seberat 40 gram ditemukan dari hasil melenggang di kedalaman 10 meter di areal tambang tradisional di Desa Antaraku, Kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar. Intan sebesar bola mata dan terlihat hitam legam diberi nama Putri Malu oleh penemunya, H. Israniansyah, yang dikabarkan laku terjual Rp3 miliar.
Penambangan intan dilakukan pada endapan placer di sepanjang beberapa sungai di Kalimantan. Semua provinsi di Pulau Borneo penghasil intan, kecuali Kalimantan Timur. Daerah penghasil intan terbesar di Indonesia adalah Martapura, Kalsel. Selain menghasilkan batu intan, Martapura juga pusat transaksi sekaligus pusat batu intan diolah.
Intan-intan yang ditemukan dan ditambang dari Kalimantan berasal dari endapan placer saja; belum dari sumber intan primer. Sumber intan primer dari Kalimantan masih menjadi misteri. Bisa jadi belum ditemukan atau singkapan primernya telah tererosi dan menyebarkan semua intannya ke sungai.
Peneliti dari Belanda, Koolhoven, pernah meneliti sumber intan primer di Kalimantan, yakni peridotit terbreksikan, yang berada di Pegunungan Babaris, Meratus atau lebih dikenal dengan Breksi Pamali. Model intan primer yang diusulkan oleh Koolhoven ini tidak ditemui pada sumber intan di daerah Afrika yang bersumber dari pipa kimberlit maupun intrusi lamproit. Lima negara penghasil berlian teratas di Afrika adalah Republik Demokratik Kongo, Botswana, Angola, Afrika Selatan, Namibia.
Intan alami (bukan intan buatan) yang telah berada di dalam perut bumi digali secara mekanis. Tanah, batu-batuan, dan pasir yang diambil menggunakan peralatan canggih dipilah dalam pabik pemrosesan untuk menyortir intan dari batu-batuan lainnya. Berlian adalah intan yang telah diproses melalui pemolesan dan pemotongan yang sesuai dengan 4C (cut, color, carat, dan clarity). Jadi, intan itu bahan mentah dari berlian. Namun untuk mengubahnya perlu proses sangat panjang dan rumit. Kecemerlangan berlian berasal dari kombinasi refleksi, dispersi, dan refraksi. Berlian memiliki indeks bias tertinggi
Sebagian besar hasil penambangan rakyat itu terpajang dalam bentuk batu maupun perhiasan di Pasar Intan Martapura, yang mengintegrasikan Pasar “Batuah” Martapura dengan Pusat Pertokoan Sekumpul, Kawasan Wisata Kuliner, dan Pasar Cahaya Bumi Selamat (CBS). Dibanding Pasar Batuan, wisatawan tampaknya lebih suka berburu batu permata di Pasar CBS.
Pasar CBS dibangun di lokasi alun-alun kota, yang telah lama menjadi ruang publik bagi masyarakat Martapura. Pasar CBS ini biasa-biasa saja, tak semewah mal. Problem pasar tradisional pada umumnya masih itemukan di sini. Pasar ini dua lantai. Lantai took-toko yang menjajakan batu permata dan cinderamata, sedangkan lantai dua berisi kios workshop pembuatan perhiasan. Anda bisa mendapatkan pernak-pernik seperti gelang, kalung, cincin, atau bros yang terbuat dari aneka batu mulia. Harganya bervariasi.
Di dekat Pasar CBS terdapat sebuah taman yang bisa dipakai untuk rehat dan menikmati suasana kota. Lokasi pasar ini juga berdekatan dengan destinasi wisata religi yang terkenal di Kalimantan Selatan: Makam Guru Sekumpul yang terintegrasi dengan Masjid Agung Al-Karomah. Untuk menuju ke Martapura hanya butuh waktu setengah jam dari Bandar Udara Internasional Syamsudin Noor, Banjasmasin. Jika anda berkendara dari Banjarmasin, perjalanan akan memakan waktu satu jam.
Selain dikenal sebagai “Kota Santri”, Martapura membanggakan diri sebagai “Serambi Makkah” di Kalimantan. Jangan lupa, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau lebih dikenal dengan Datu Kalampayan (17 Maret 1710–Oktober 1812) adalah ulama fikih masyhur mazhab Syafi’i yang berasal dari kota ini. Destinasi wisatanya cukup beragam. Di antaranya, Pasar Terapung . Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam. Danau Biru. Bukit Batas. Rumah Banjar. Pulau Pinus, Pasar Astambul dimulai setiap hari pada pukul 3 pagi hingga pukul 10 siang.
Label historis sebagai Kota Intan masih melekat pada Kota Martapura. Tapi situainya miris. “Bahan baku dari daerah pertambangan rakyat Cempaka kini sulit dicari. Kalaupun ada, lebih banyak jasa penggosoknya ketimbang order. Dulu hampir 75 persen warga Martapura penggosok Intan, kini tinggal segelintir. Di Pusat Informasi Pariwisata dan Penggosokan Intan Martapura, binaan Bank Indonesia, dari 20 orang penggosok kini tersisa empat orang saja. “Itu pun kerjanya tidak penuh waktu lagi,” ujar H. Burhanuddin, salah seorang penggosok intan Martapura.
Selain bahan baku Intan yang sulit dicari, banyaknya batu permata dari luar yang kini juga dijual di Kalsel juga menjadi salah satu alasan berkurangnya minat turis lokal ataupun mancanegara untuk membeli intan khas Martapura. Dalam hal harga, tidak ada patokan khusus, karena sangat tergantung warna, pemotongan, kejernihan warnanya dan nilai karatnya.●(dd)








