hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Pakar AS Soroti Kompleksitas MJO di Benua Maritim Indonesia

Ilustrasi hujan. Foto: bpbd.jogjaprov.go.id
Ilustrasi hujan. Foto: bpbd.jogjaprov.go.id

PeluangNews, Jakarta – Dinamika atmosfer di wilayah Indonesia kembali menjadi sorotan dalam diskusi ilmiah internasional. Pakar atmosfer dari Florida Institute of Technology, Pallav Ray, membagikan keahliannya dalam sebuah webinar yang digelar pada Senin (12/1).

Webinar bertajuk On the Role of Land–Atmosphere Interactions on Precipitation and MJO in the Maritime Continent tersebut diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA). Kegiatan ini membahas hasil riset terbaru terkait peran interaksi darat dan atmosfer terhadap curah hujan serta fenomena Madden–Julian Oscillation (MJO) di wilayah Benua Maritim Indonesia (BMI).

Pallav menjelaskan bahwa pengaruh MJO terhadap curah hujan di Indonesia memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi dan menjadi perhatian penting para peneliti dunia. Hal ini tidak terlepas dari posisi strategis wilayah BMI yang diketahui dapat memengaruhi iklim global.

“Pengaruh MJO terhadap curah hujan di Indonesia sangatlah kompleks dan telah menjadi perhatian yang sangat penting bagi peneliti dunia, karena diketahui wilayah BMI dapat memengaruhi iklim global. Memahami bagaimana MJO memengaruhi cuaca di Indonesia sangat berguna, terutama untuk meningkatkan akurasi prediksi cuaca ekstrem yang berdampak pada bencana hidrometeologis di Indonesia, seperti banjir, longsor, dan lain sebagainya,” katanya.

Dalam paparannya, Pallav menguraikan karakteristik topografi Benua Maritim Indonesia yang terdiri atas banyak pulau besar dan dikelilingi perairan hangat, sehingga menciptakan kondisi atmosfer yang unik. Berdasarkan hasil eksperimen pemodelan, keberadaan pulau dinilai berperan penting dalam mendukung pembentukan hujan.

“Hasil eksperimen pemodelan menunjukkan bahwa keberadaan pulau berperan penting dalam mendukung pembentukan hujan. Hasil simulasi model menunjukkan bahwa ketika daratan dihilangkan, presipitasi menurun tidak hanya di atas daratan, tetapi juga di atas lautan, yang menegaskan kuatnya pengaruh pulau terhadap sistem hujan regional,” tuturnya.

Lebih lanjut, Pallav menyoroti adanya ketidaksimetrisan respons atmosfer terhadap sumber panas. Ia menjelaskan bahwa sumber panas di wilayah Kalimantan atau Sumatra dapat memberikan pengaruh hingga ke wilayah timur yang jauh, termasuk Papua Nugini, sementara pengaruh sebaliknya relatif lebih lemah.

“Sumber panas di Kalimantan atau Sumatra dapat memengaruhi wilayah yang jauh ke arah timur, termasuk Papua Nugini. Sementara, pengaruh sebaliknya relatif lebih lemah,” terang Pallav.

Ia menambahkan bahwa temuan tersebut menantang teori klasik terkait respons sirkulasi atmosfer tropis. “Temuan ini menantang teori klasik tentang respons sirkulasi atmosfer tropis, karena hasil model menunjukkan bahwa sumber panas berskala relatif kecil tetap mampu menimbulkan dampak yang signifikan,” tambahnya.

Pallav juga menekankan pentingnya proses atmosfer di atas planetary boundary layer (PBL). Berdasarkan hasil eksperimen, sekitar 40 persen penurunan presipitasi disebabkan oleh berkurangnya adveksi di atas PBL, sementara 60 persen berasal dari proses yang terjadi di dalam PBL.

“Temuan ini menunjukkan bahwa troposfer bebas memiliki peran yang jauh lebih penting dari yang selama ini diperkirakan,” tegasnya.

Selain itu, topografi dinilai memiliki pengaruh kuat terhadap siklus harian hujan, khususnya pada wilayah dengan ketinggian di atas 1.000 meter di atas permukaan laut. Representasi topografi yang akurat menjadi krusial karena bias simulasi presipitasi di daratan dapat merambat dan memengaruhi hasil simulasi di wilayah laut.

Dalam kesempatan tersebut, Pallav juga memaparkan peran precipitation-induced surface heat flux (QP). Penambahan komponen QP ke dalam model terbukti mampu menurunkan bias amplitudo dan waktu puncak presipitasi harian secara signifikan, sekaligus mengurangi bias presipitasi serta nilai root mean square error (RMSE) hingga 10–15 persen.

“Meski belum sepenuhnya menjelaskan variasi hujan pada skala waktu yang lebih panjang, perbaikan ini dinilai penting dan tidak boleh diabaikan dalam pemodelan iklim di Benua Maritim,” jelasnya.

Di akhir paparannya, Pallav menyoroti masih terbatasnya data observasi fluks panas permukaan dan kelembapan tanah di wilayah Benua Maritim. Keterbatasan tersebut menjadi tantangan utama dalam pengembangan dan evaluasi model iklim, sehingga penguatan sistem observasi dinilai penting untuk meningkatkan akurasi prediksi iklim di kawasan tersebut.

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate