hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Optimalkan Literasi Wakaf untuk Pemberdayaan Masyarakat

Instrumen wakaf melalui uang dapat menjadi solusi untuk meredistribusi kesejahteraan. Sebagai pengelola wakaf terpercaya, Kopsyah BMI mengimbau anggota dan karyawannya, serta publik untuk berwakaf, terlebih di tengah naiknya angka kemiskinan seperti sekarang.

Islam sebagai agama sempurna memiliki beragam instrumen pemberdayaan sosial dan ekonomi, salah satunya adalah wakaf. Selama ini wakaf sering dikonotasikan terbatas pada aset tak bergerak tanah dan bangunan. Padahal, wakaf juga bisa dilakukan melalui alat likuid seperti uang. Wakaf melalui uang inilah yang terus digelorakan oleh Koperasi Sekunder Benteng Madani Indonesia (Koperasi BMI).

Presiden Direktur Koperasi BMI sekaligus Direktur Utama Kopsyah Benteng Mikro Indonesia (BMI), Kamaruddin Batubara, mengungkapkan instrumen wakaf melalui uang (WMU) digunakan untuk pemberdayaan sosial ekonomi anggota dan masyarakat. “Kami terus mengajak semua pihak untuk membudayakan wakaf melalui uang lewat literasi dan ajakan baik kepada anggota dan karyawan,” ujar Kambara.

Untuk diketahui, Kopsyah BMI sebagai anggota Koperasi BMI merupakan pengelola wakaf atau Nadzir Wakaf yang terdaftar resmi di Badan Wakaf Indonesia (BWI). Bahkan Kopsyah BMI dinobatkan sebagai Nadzir Wakaf terbaik oleh Kementerian Koperasi UKM pada 2018. 

Kopsyah BMI menggunakan sebagian hasil perolehan WMU dialokasikan untuk kegiatan produktif seperti pembangunan Kawasan BMI Center di Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang. Rencananya di atas lahan 20 hektar tersebut, BMI akan membangun kawasan terintegrasi institusi pendidikan umum dan keagamaan, masjid, kawasan komersial, pabrik bioethanol dan lainnya untuk pemberdayaan sosial ekonomi umat. 

Untuk mengoptimalkan potensi wakaf yang ditaksir BWI mencapai Rp180 triliun pertahun itu, Kopsyah BMI terus menggenjot literasi wakaf di kalangan anggota dengan menerjunkan 2 (dua) orang  ustad dalam acara Rembug Pusat. Selain itu, dalam acara pertemuan anggota setiap pekan juga disisipkan ajakan untuk berwakaf melalui uang.

Kambara menambahkan, kunci sukses menggerakkan semangat anggota dan karyawan untuk berwakaf adalah kepercayaan (trust) kepada Nadzir. Oleh karenanya, Kopsyah BMI senantiasa menjaga trust ini dengan mengedepankan transparansi pengelolaan dana wakaf serta penggunaan dananya dalam berbagai kegiatan sosial dan pemberdayaan. “Setelah trust didapat, Nadzir harus memetakan program dan target agar dana wakaf dapat digunakan sesuai peruntukannya,” ungkapnya. 

Menariknya, Koperasi berprestasi ini punya cara unik untuk meningkatkan perolehan WMU. Sebelumnya anggota ditargetkan berwakaf sebesar Rp10 ribu perminggu dengan hasil mencapai Rp300 juta- Rp400 juta perbulan. Namun kemudian nominalnya diubah menjadi Rp2 ribu perminggu dan hasilnya meroket mencapai Rp800 juta- Rp900 juta perbulan. Bahkan pada Maret lalu, perolehan WMU tembus Rp950 juta perbulan.

Sementara Ketua Pengawas Syariah Kopsyah BMI, Hendri Tanjung setuju dengan Kambara bahwa kunci sukses WMU adalah membangun trust kepada Nadzir.  ”Butuh trust dan kolaborasi dari berbagai pihak dan lembaga untuk menggerakkan wakaf,” terang Hendri yang baru saja merilis buku berjudul Wakaf dan Ekonomi Syariah.

Jika potensi besar wakaf dapat dikonsolidasikan niscaya problematika kemiskinan yang masih menjadi masalah utama bangsa ini dapat terpecahkan. So, apakah Anda sudah berwakaf melalui uang?. (Kur) 

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate