KARANGASEM— Desa Seraya Timur, Kabupaten Karangasem, Bali memiliki potensi kelautan dan perikanan yang cukup besar khususnya ikan tongkol, yang merupakan salah satu ikan target nelayan. Produksi hasil tangkapan ikan tongkol di Kabupaten Karangasem sebesar 81% dengan jumlah tangkapan sekira 20 ribu ton per tahun.
Sayangnya, setiap kali nelayan mendapatkan ikan harus dikirim ke tempat pengolahan ikan di Kabupaten Klungkung, karena tidak memiliki pengolahan ikan sendiri. Saat musim panen ikan tongkol melimpah, namun harganya anjlok. Banyak nelayan yang tidak bisa menjual ikannya sendiri, karena murah dan memilih menjemurnya sendiri.
Kondisi ini menggugah I Nyoman Miasa untuk mencari cara agar ikan-ikan itu tidak mubazir saat melimpah dan nelayan tetap mendapat penghasilan. Pria kelahiran 1990 ini kemudian mencoba untuk membuat abon ikan tongkol sejak 2017.
“Awalnya gagal karena produk yang dihasilan bau amisnya masih kental. Saya kemudian mengajak satu orang kakak ipar untuk menghilangkan bau amis ikan dan akhirnya bertemu resepnya pada 2019,” ujar Miasa ketika dihubungi Peluang lewat Whatsapp, Jumat sore (7/5/21).
Akhir 2019 produksi dimulai, dan mulai merubah kemasan yang layak dijual. Dengan brand Abon Pindang Samba, Miasa menawarkan dua varian rasa, yaitu bumbu Kesuna Cekuh tanpa rasa pedas dan pedas manis dengan harga Rp25.000.
Dalam sebulan Miasa bekerja sama dengan para nelayan mampu membuat 1.500 paks. Produk abon tongkol ini dipasarkan tidak saja di Bali, tetapi juga sampai Jawa Timur, Jawa Barat dan Jakarta.
“Sayangya ketika mulai aktif berproduksi, kami terimbas pandmei Covid-19, hingga menghentikan produksi secara reguler. Untuk itu kami hanya memproduksi kalau ada pesanan,” ungkap pria kelahiran 1990 ini.
Ke depan, magister sebuah perguruan tinggi di Bali ini berencana membuat inovasi baru agar abon tetap berproduksi, membentuk tim marketing dan diversivikasi produk membuat pindang sisit dengan varian rasa untuk siap saji (Irvan).








