SEMULA, perusahaan yang dipimpin Tony Fernandez nyaris bangkrut dan dililit banyak utang. Lebih buruk dari itu, AirAsia kala itu bahkan mengalami defisit hampir USD1 juta per bulan. Demikian sang CEO AirAsia menceritakan perjalanannya membangun perusahaan maskapai penerbangan berwarna merah itu.
Membebaskan diri dari kondisi seperti ini amat tidak mudah bagi siapa pun. Sebuah prediksi logis menyebut, AirAsia tidak punya masa depan yang jelas. “Jadi, sebelum saya tangani, AirAsia ini hanya punya sedikit rute. Kami perlahan bisa membangun perusahaan dengan penerbangan dengan tiket murah. Padahal, 16 tahun lalu, saya tidak punya pemahaman memadai soal airlines,” ujar Fernandez.
Ia bertutur, pada 16 tahun lalu, dirinya memulai pekerjaan dengan keras, melawan orang-orang yang meremehkannya. Hasilnya? Dengan pencapaiannya, dia bisa mematahkan padangan para pencemoohnya. Tony Fernandez berhasil mewujudkan mimpinya membangun sebuah usaha yang gemilang.
Tidak pernah ada yang menyangka bahwa Fernandez memulai keberhasilan kariernya dari dunia musik sebagai pelaku bisnis di Warner Group. Ia salah satu pemilik klub sepakbola lnggris, Queens Park Rangers, dan sempat terjun di F1. “Tentu AirAsia akan selalu menjadi babak terpenting,” tutur dia.
Pada hemat Fernandez, menjadi CEO itu tidak hanya soal skill dan kecerdasan, tetapi kepekaan terhadap tantangan untuk meraih sukses. Dia menggantungkaj impiannya sedari bocah, yaitu memiliki pesawat terbang dengan tiket terjangkau. Bagi pria yang juga pernah menjadi akuntan biasa-biasa saja ini, mewujudkan impian bukan suatu yang utopis. Pesan Tony Fernandez kepada semua pemimpi di dunia sederhana saja. “Kejarlah mimpi, karena sebagian impian bisa menjadi kenyataan”.●








