KUDUS—Masyarakat awam masih banyak mengenal Labu kuning (Cucurbita moschata) sebagai panganan untuk sayur atau pelengkap kolak pisang. Namun di tangan Nurhayati (49), warga Desa Bulungcankring, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah labu kuning disulap menjadi aneka olahan lezat.
Usaha ini dirintis oleh peraih diploma akutansi sebuah universitas di Semarang pada 2017 setelah mengundurkan diri dari sebuah perusahaan dan mengikuti berbagai macam pelatihan. pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK) di Kudus dan Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Disnakerperinkop dan UKM) Kudus.
Dengan brand Elbina, yang diambil dari nama salah seorang dari tiga anaknya, Nurhayati membuat stik, kukis, brownies, donat, puding, dawet hingga tepung yang semuanya terbuat dari labu kuning. Elbina ditopang lima karyawan.
“Produk Elbina dibandroll dengan harga Rp25 ribu hingga Rp60 ribu. Sebagian besar varian prpduknya dibuat 600 pieces per bulan dengan lima karyawan,” ujar Nurhayati ketika dihubungi Peluang, Jumat (8/10/21).
Dia mengaku inspirasinya juga didorong oleh melimpahnya produksi buah labu di sekitar tempat tinggalnya dan dia ingin menyerap produk petani dan membuktikan labu kuning punya nilai tambah.
Nurhayati berharap dengan membuat tepung berbahan dasar labu, bisa membantu perekonomian petani. Dari 1,5 kilogram labu segar itu hanya bisa menjadi 110 gram tepung.
“Jadi semakin banyak saya membutuhkan tepung, semakin banyak saya mengambil labu dari petani yang akhirnya bisa membantu saat pandemi seperti ini,” tuturnya.
Nurhayati mengungkapkan, untuk olahan kue basah, pelanggannya sekitar Kudus. Namun untuk tepung labu kuning, stik, serta kue brownis kering, penjualannya sudah merambah lain daerah bahkan hingga luar pulau.
Sementara untuk pelanggan olahan kering berbahan labu kuning ada yang dari Semarang, Yogyakarta, Jakarta, hingga Maluku.
Seperti banyak pelaku UMKM lainnya, Elbina jug aterimbas pandemi Covid-19. Apalagi Kudus penah sempat jadi daerah yang “dilockdown”. Sebesar 80% omzet anjlok, karena tidka ada pesanan dari dinas dan perkantoran hingga ditutupnya sentra oleh-oleh yang jadi andalannya.
Dia pun kemudian menggencarkan penjualan secara daring, menggunakan marketplace dan ketika sudah PPKM sudah mulai turun level mengikuti berbagai pameran, di antara di ITC Kuningan, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu. Dia bersyukur kini penjualan berangsur normal.
“Ke depan saya berencana untuk mendirikan rumah khusus untuk pengeringan labu untuk mendukung produksi,” tutupnya (Irvan).





