hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Nunur Syarifah, Usaha Ayam Bakar Hidupi Tiga Anak

JAKARTA—Ingat, tokoh Mail dalam serial kartun Upin dan Ipin yang kerap bilang: Dua seringit.  Tokoh yang kadang menyebalkan ini sebetulnya mencerminkan semangat berdagang, tepatnya  berwirausaha bisa dipupuk semenjak kecil.

Nunur Syarifah, (44 tahun) tampaknya mirip seperti Mail, menjadikan berdagang sebagai hobinya semenjak kecil, yang menurun dari kedua orangtuanya. Namun hobi ini baru berkembang ketika dia merintis usaha ketika masih merintis usha bersama suaminya beberapa tahun yang silam.

“Suami yang menjalankan usaha yang kami rintis dari nol di bidang mebel. Semenatar saya berdagang di bidang kuliner dengan dukungan hobi yang lain, yaitu memasak,” ujar Nunur ketika dihubungi Peluang, Kamis (19/8/21).

Kedua hobi ternyata memberikan energi bagi peraih diploma akutansi sebuah perguruan tinggi swasta ini ketika dia menghadapi perceraian dengan suaminya, yang akhirnya membuatnya memutuskan untuk serius berwirausaha agar bisa bertahan hidup.

Awalnya dia merintis produk frozen food, risoles bledag dan produk minuman manis Reeva sekitar 2017. Produk ini dijualnya dari bazar ke bazar Car Free Day, hingga secara daring.

“Alhamdulillah produk minuman saya sudah memiliki sertifikat halal setelah saya ikuti pelatihan-pelatihan yang ada di Jakpreneur,” ucap Nunur.

Pada pertengahan 2019, ibu dari dua anak ini membuka kedai di Mal Lippo, Mampang, lantai III. Sayangnya hanya bertahan beberapa bulan dan tempat itu kemudian menjadi rumah sakit. Awal 2020 dia membuka kedai ayam bakar di kawasan Pejaten Barat II depan masjid Istiqomah.

Ujian pun kembali menerapa Nunur, pandemi Covid-19 merajalela, usahanya terdampak. Biayanya lebih besar pasak daripada tiang.  Hanya bertahan setahun, hingga akhirnya dia menggunakan penjualan berdasarkan pesanan.

“Saya pilih ayam bakar karena banyak yang suka ayam bakar baik anak-anak maupun orang tua. Resep saya buat sendiri dengan olahan rempah-rempah hingga meresap ke tulang-tulang, tetapi saya juga menawarkan menu lain seperti Mi Klenger,” tutur Nunur.

Menu ayam bakarnya dibandroll rata-rata Rp17 ribu per paket. Sementara menu lain antara Rp13 ribu hingga Rp15 ribu.  Omzetnya turun naik, tertinggi 100 paket dan rata-rata hanya 10 paket masa pandemi.

“Saya juga menambah penghasilan dari menulis. Dengan uang hasil usaha, saya bisa menghidupi ketiga anaknya, termasuk ketika mereka sakit. Untungnya biaya pendidikan masih didpaat dari ayahnya,” kata dia.

Ke depan, Nunur berencana akan meneruskan usaha ayam bakar ini di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan. Menurutnya walau usahanya kerap terseok-seok, yang penting hasilnya halal dan thoyibah (Irvan).

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate