Yang paling unik dari Pulau Sebatik adalah keberadaan rumah warga yang dibangun persis di lahan perbatasan. Bagian ruang tamu berada di Indonesia, sedangkan bagian dapurnya di teritori Malaysia.
NAMA Nunukan biasa terdengar terkait dengan statistik pergerakan populasi antarnegara, Indonesia dan negara tetangga, Malaysia. Sepanjang 2019, misalnya, tercatat 2.669 TKI Bermasalah dipulangkan ke Nunukan. Posisi geografis kabupaten paling utara Provinsi Kalimantan Utara seluas 14.493 km² ini berbatasan langsung dengan negeri Tun Mahathir Muhammad. Nama kabupaten ini sama dengan nama ibu kotanya, Nunukan, yang luasnya 226 km².
Pelabuhan Tunon Taka, Nunukan, merupakan pelabuhan lintas kota itu dengan Kota Tawau, Malaysia. Penduduk Kota Nunukan yang hendak pergi ke Tawau memerlukan dokumen PLB (Pas Lintas Batas). Mobilitas warga di wilayah perbatasan itu cukup dinamis. Setiap hari rata-rata sekitar 8 unit kapal cepat dengan kapasitas kurang lebih 100 orang mondar-mandir antara Nunukan dan Tawau.
Nunukan bisa dicapai lewat jalur udara, dengan penerbangan dari Balikpapan dan Tarakan ke Bandara Nunukan. Jalur laut juga bisa dipilih dengan menggunakan kapal yang berlabuh di Pelabuhan Tunon Taka. Sesampainya di Nunukan, transportasi darat di Nunukan tersedia dengan baik, entah motor dan mobil.
Anda dapat mengunjungi beberapa lokasi wisata alam yang menarik di Nunukan. Ada Taman Nasional Kayan Mentarang yang berisi hutan alami dengan sungai-sungai besar yang memiliki ragam flora fauna eksotik, d samping pantai-pantai menawan. Misalnya saja, Pantai Firdaus, Pantai Ecing, Pantai Kayu Angin, Pantai Batu Lamampu, Air Terjun Sianak, Pulau Sebatik. Tempat ibadah berbagai agama juga dapat ditemukan dengan mudah. Ada Masjid Hidayaturahman yang megah, Gereja Paroki Santo Gabriel, GKI Nunukan, dan Klenteng San Seng Kong
Sebagian besar lokasi wisata yang disebut di atas masih tersembunyi. Yang jelas, banyak sekali spot foto keren yang menjadi daya tarik bagi para wisatawan yang berminat mengeksplorasinya. Antara lain Long Bawan. Ini sebuah desa yang lokasinya berada di Kecamatan Krayan, Nunukan. Tepatnya di daerah perbukitan yang tingginya mencapai 700-1200 meter di atas permukaan laut. Wilayah Long Bawan berbatasan langsung dengan Serawak, Malaysia.
Meskipun letaknya tersembunyi di balik gunung-gunung belantara Kalimantan dan sulit untuk dijangkau, Long Bawan menjadi primadona di Nunukan yang wajib anda kunjungi sebagai pelancong. Long Bawan yang memiliki udara sejuk dan dingin dijamin akan membuatmu merasa betah berada di sini. Oleh-oleh yang bisa kamu bawa pulang meliputi apel dan garam gunung hasil budidaya petani dan nelayan lokal.
Pulau Sebatik merupakan sebuah pulau kecil yang dimiliki Indonesia dan Malaysia. Pulau Sebatik terbagi menjadi dua. Belahan utara seluas 187,23 km² merupakan wilayah Negara Bagian Sabah, Malaysia. Sedangkan belahan selatan dengan luas 246,61 km² masuk ke wilayah Indonesia di Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara. Dari hamparan seluas ini, sekitar 375, 52 hektare merupakan kawasan konservasi.
Kecamatan Sebatik terdiri dari empat desa, yaitu Tanjung Karang, Pancang, Sungai Nyamuk Tanjung Aru, dan Setabu. Pulau ini merupakan salah satu pulau terluar yang menjadi prioritas utama pembangunan, karena berbatasan langsung dengan Malaysia. Selain pariwisata, program utama yang dilakukan di Pulau Sebatik adalah pembangunan sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan.
Yang paling unik dari Pulau Sebatik adalah keberadaan rumah warga yang dibangun tepat di perbatasan. Bagian ruang tamu berada di Indonesia, sedangkan bagian dapurnya ada di Malaysia. Konon bangunan yang ada sejak tahun 1977 itu milik WNI bernama Mangapara. Ia tercatat sebagai penduduk Desa Aji Kuning, Kecamatan Sebatik, Kabupaten Nunukan. Tempat tinggalnya terletak di Tugu Patok 3 perbatasan Indonesia dan Malaysia. Awalnya Mangapara hanya mendiami wilayah Indonesia. Warga Malaysia tetangganya kemudian berbaik hati memperbolehkan Mangapara membangun dapur di tanahnya. Jadilah, rumah itu berdiri di dua negara.
Patok perbatasan antara dua negara serumpun di wilayah ini tampaknya tidak sangat dipertegas. Hanya ditandai dengan Tiang Bendera Merah Putih. Jumlahnya pun amat sedikit. Ala kadar. Salah satunya bertuliskan ‘Kokohkan Merah Putih di Tapal Batas’. Tak jauh dari rumah Mangapara, dibangun pula pos TNI sebagai penjaga perbatasan. Bagaimanapun, masalah kejelasan patok batas wilayah ini perlu mendapat perhatian serius, demi menghindari konflik yang tak perlu di kemudian hari.
Mungkin didorong oleh kesadaran pentingnya menjaga kerukunan antarwarga antarnegara, Nunukan telah pula beberapa kali menggelar Festival Crossborder Nunukan. Penyelenggaraan tahun ini berlangsung dengan sukses sukses. Di dalamnya tersaji berbagai banyak keseruan dan dapat dinikmati sepuasnya selama dua hari perhelatan, 13-14 Juli 2019. Event tahunan di wilayah perbatasan itu, selain menaikkaan ekonomi (Rumusnya: perpindahan orang itu sama dengan perpindahan uang), tentu saja berfungsi sebagai penguat jalinan sosial.
Sebagai satu dari sedikit provinsi di Indonesia yang berbatasan langsung dengan wilayah negara lain, Nunukan memnghadapi masalah kemandirian ekonomi. Sebagaimana dikemukakan KADIN Nunukan, pola ketergantungan konsumsi sebagian warga perbatasan terhadap produk-produk Malaysia. Mengingat mayoritas masyarakat berprofisi petani, pola ketergantungan seperti ini cukup memprihatinkan. Padahal, sumber daya tidak kekurangan. Kendala berupa antara lain minimnya infrastruktur ini menuntut penanganan secepatnya.●(dd)








