JAKARTA—Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada November 2021 meningkat ke angka 107,18 atau meningkat sebesar 0,49 persen dibanding NTP sebelumnya, yaitu 106,67.
Kenaikan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik sebesar 0,84 persen lebih tinggi dibandingkan kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,35 persen.
Bila dilihat dari subsektor, maka Tanaman Perkebunan Rakyat naik paling tinggi dari 127,66 menjadi 130,29 dengan angka kenaikan 2,05.
Yang menarik hanya subsektor ini dan subsektor Perikanan yang berada di atas angka 100. Subsektor perikanan berada pada angka 105,11 walaupun turun tipis dari bulan Oktober di 105,28.
Sementara Subsektor Peternakan dan Subsektor Tanaman Pangan masing-masing pada angka 99,56 dan 99,48 walaupun meningkat. Bahkan sektor hortikultura anjlok minus 2,92 menjadi 96,54.
Kepala BPS Margo Yuwono dalam jumpa pers, Rabu 1 Desember 2021 mengakui subsektor perkebunan tinggi. Jika dilihat komoditasnya paling dominan (kenaikan harga) kelapa sawit, kemudian kopi dan kelapa.
“Sementara ubsektor hortikultura ini penurunan NTP-nya sebesar 2,92 persen dan kalau dilihat komoditas yang dominan memengaruhi indeks yang diterima petani karena penurunan harga bawang merah, cabe rawit dan tomat,” ujar Margo.
Sementara Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) Joko Supriyono menuturkan permintaan minyak sawit terus mengalami kenaikan. Harga minyak sawit saat ini sedang dalam tren kenaikan bahkan tembus USD1.200 per metrik ton.
“Faktor pendorong ialah penggunaan sawit sebagai bahan bakar B30 untuk kendaraan bermotor. Selain itu, permintaan minyak sawit yang tinggi juga sejalan dengan pemulihan ekonomi nasional,” katanya.








