
PeluangNews, Jakarta-Koperasi Konsumen Nira Sari Prima dari Cilacap membuktikan bahwa koperasi tak lagi identik dengan usaha kecil yang jalan di tempat.
Berbasis kekuatan 848 petani binaan tersertifikasi, koperasi ini menjelma menjadi motor penggerak produk gula kelapa dan turunannya yang kini menembus pasar ekspor.
Di bawah brand Nira, koperasi ini mengelola potensi kelapa dari hulu hingga hilir. Mulai dari penyadapan nira, pengolahan, hingga pengemasan akhir, semuanya dilakukan secara mandiri.
“Karena pertanian kelapa adalah milik kami sendiri, kami mengelola dari hulu hingga hilir. Kami memproduksi mulai dari pertanian hingga finalisasi produk,” kata Anton, Direktur sekaligus Ketua Koperasi Nira Sari Prima, didampingi Yusuf selaku Wakil Ketua Koperasi, saat berbincang dengan PeluangNews di acara Meet The Market, diselenggarakan oleh Smesco Indonesia, di Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Saat ini, Nira Sari Prima mengelola 26 ribu pohon kelapa di lahan seluas 16 ribu hektare. Skala tersebut memungkinkan kapasitas pengiriman mencapai 500 ton per bulan.
Bersama PT Fresh Vegetable Market International, mereka telah melakukan ekspor ke sejumlah negara. Mitra utama di dalam negeri adalah PT Indofood, sementara ekspansi terus dilakukan ke Timor Leste dan kawasan Timur Tengah.

Tak hanya itu, kerja sama internasional juga diperkuat melalui penandatanganan MoU dengan mitra di Istanbul, Turki, melalui fasilitasi Atase Perdagangan dan ITPC. Dalam waktu dekat, Nira juga bersiap menjalin kemitraan dengan Malaysia, termasuk dengan salah satu pabrik susu terbesar di negara tersebut.
Dari sisi legalitas dan standar mutu, Nira Sari Prima tak main-main. Mereka telah mengantongi NIB, sertifikat halal, hasil uji laboratorium, Nutrition Facts, hingga izin BPOM dari Timor Leste untuk pengakuan global. Masa kedaluwarsa produk mencapai dua tahun, menjadikannya kompetitif untuk pasar ekspor.
Produk Nira hadir dalam berbagai varian, mulai dari powder (gula semut), liquid (cair), hingga blok. Salah satu unggulan adalah kemasan bulking 250 gram. Varian stik (sachet) bahkan sempat habis stok karena terserap kebutuhan hotel organik. Selain gula kelapa dan gula aren, koperasi ini juga memproduksi VCO, briket, serta berbagai turunan kelapa lainnya.
Brand NIRA FOOD diposisikan sebagai pemanis alami yang diolah langsung dari alam ke meja konsumen. Setiap butir gula berasal dari nira murni yang disadap oleh lebih dari 800 petani lokal binaan. Prosesnya dilakukan tanpa bahan kimia sintetis, sehingga nutrisi alami tetap terjaga.
Keunggulan utama Nira terletak pada efisiensi biaya produksi. Karena seluruh rantai pasok dikelola sendiri—mulai dari kebun, mesin produksi, hingga pengemasan—harga produk bisa bersaing dan cenderung lebih murah.
“Organik tidak lebih mahal dibandingkan produk berbasis kimia jika dikelola dengan baik dari pertanian sampai hilirisasi,” tegas Anton.
Di pasar domestik, pemasaran masih fokus di Bali. Namun, langkah ekspansi terus dilakukan. Terbaru, Nira difasilitasi Smesco untuk melakukan business matching dengan jaringan ritel besar seperti Indomaret, Alfamart, AMDI, dan Lotte Mart. Targetnya jelas produk koperasi naik kelas dan masuk rantai distribusi nasional.
Secara finansial, performa koperasi ini juga solid. Volume perputaran kas mencapai Rp34 miliar per tahun, dengan Sisa Hasil Usaha (SHU) yang dibagikan kepada anggota sebesar Rp2,7 miliar.
Angka tersebut menjadi bukti bahwa model koperasi modern berbasis hilirisasi pertanian mampu memberikan kesejahteraan nyata bagi anggotanya.
Anton berharap produk hilirisasi pertanian seperti Nira semakin mendapat perhatian serius dari pemerintah.
“Sebagai negara agraris, seharusnya kita bisa mengonsumsi produk organik dari negeri sendiri. Jika dikelola dengan benar, harganya bisa setara dengan produk pada umumnya,” pungkasnya.
Dari Cilacap untuk dunia, Nira Sari Prima sedang menunjukkan bahwa koperasi bukan sekadar wadah berkumpul, tetapi mesin ekonomi rakyat yang mampu bersaing di pasar global.








