BANDUNG—Pada 2004 Nenden Rospiani dan suaminya Amril membuka rumah makan bertajuk Restu Mande di Jalan Brigjen Katamso, Cicadas, Bandung dengan karyawan hanya dua orang.
Ternyata banyak orang suka produknya terutama rendang dan bertanya bagaimana caranya untuk dibawa ke luar negeri atau umroh.
“Lalu suami saya membuat terobosan buat rendang umur simpan lebih dari satu tahun di suhu ruangan pada 2011. Awal jual rumah makan nggak laku,” ujar Nenden kepada Peluang, Rabu (6/10/21).
Ketika rendang diumumkan jadi makanan terlezat di Indonesia, mereka bernisiatif menjual rendang kemasan ini secara daring, melalui media sosial Facebook dan Twitter, dengan target memasarkan rendang ke pasar global. Awalnya hanya satu varian, namun akhirnya berkembang menjadi belasan varian dan produk lain seperti balado.
Produk yang dijual di antaranya rendang sapi, rendang udang, rendang ayam, rendang paru, rendang jengkol, rendang jamur bahkan rendang cilok dengan belasan varian dan produk balado serta sambal mencapai puluhan. Harga produk bervariasi antara Rp20 ribu hingga Rp85 ribu dengan kemasan rata-rata 300 gram.
Amril berperan di bidang produksi dengan resep tidak 100% seperti rendang Minang agar bisa diterima lidah banyak orang. Inovasinya ternyata disambut pasar hingga luar negeri.
Kini Restu Mande, mampu menyerap 32 karyawan, rumah makan 9 orang, ada yg di toko, outlet, marketplace. Sisanya di tempat produksi. Usahanya melebar ke 40-an retail, sebanyak 20-an retail di Jakarta, sisanya di Bandung dan penjualan melalui reseller.
“Rendang Restu Mande seluruh dunia. Kita melayani reseller di luar negeri, jual di komunitas masing-masing, ada di Prancis, Hongkong, Malaysia, Singapura, Australia, AS. Kami UKM bisa membuktikan produk Indonesia dikemas dengan baik bisa menjelaha kancah internasional,” tambah Nenden lagi.
Pada masa pandemi rendang kemasan yang bisa tahan 8-12 bulan dalam suhu ruangan ini mendapat permintaan cukup tinggi. Omzet tiga bulan masa pandemi sama dengan omzet setahun masa normal.
“Hanya saja memang permintaan dari luar negeri berkurang karena pembatasan dalam pandemi. Tetapi justru lokal naik,” ucap dia lagi.
Kini Restu Mande mendapat kesempatan mewakili indonesia mengikuti pameran Dubai EXPO. Itu artinya Restu Mande tinggal selangkah lagi untuk pasar internasional. Menurut Nenden, hal ini karena Restu Mande sudah mendapatkan standarisasi dari berbagai pihak (Irvan).





