hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi
Opini  

Narasi Sesat ‘Prabowo Hina Iran’: Siapa Bermain di Balik Layar?

Prabowo
Ilustrasi: Prabowo Subianto/dok.peluangnews

Oleh: Edy Mulyadi

PeluangNews, Jakarta – Dalam beberapa hari terakhir, jagad media sosial kita dijejali narasi ‘Prabowo menghina Iran’. Kalimat “Rakyat Iran keras kepala” yang dilontarkan Prabowo Subianto dipotong. Dikemas ulang. Potongan video disebar. Makna dipelintir. Emosi publik dipancing. Maka jadilah, seolah-olah Presiden RI Prabowo menghina Iran.

Jika kita memutar ulang secara utuh pidato Prabowo, yang ada justru sebaliknya. Presiden kita memuji pemerintah dan rakyat Iran sebagai pemegang prinsip dan teguh pendirian. Sikap itu antara lain ditunjukkan dalam perlawanan terhadap Amerika dan Israel. Mereka keras kepala dalam menegakkan prinsip dan kebenaran. Keras kepala ini pula, kata Prabowo, yang dimiliki para pendiri bangsa Indonesia saat merebut kemerdekaan dari penjajah.

Jadi, tidak bisa tidak, narasi Prabowo menghina Iran jelas hoaks. Pertanyaannya, mengapa negara diam saja? Aneh, narasi yang menyebut Prabowo Subianto menghina Iran sudah beredar luas selama berhari-hari. Namun hingga kini, nyaris tidak terlihat langkah tegas dari aparat untuk menindak para penyebarnya.

Padahal, secara teknis, melacak sumber penyebaran bukan hal sulit. Unit siber di Kepolisian Negara Republik Indonesia punya perangkat, kemampuan, dan kewenangan untuk mengurai jejak digital. Siapa yang pertama memotong video. Siapa yang membingkai narasi provokatif. Juga siapa yang menyebarkannya secara sistematis? Instrumen hukumnya pun tersedia, lengkap. Mulai dari Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) hingga pasal-pasal tentang penyebaran berita bohong dan fitnah.

Bukan lamban, tapi pembicaraan

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Tidak ada efek kejut. Tidak ada penindakan yang terlihat. Kekosongan ini menimbulkan pertanyaan yang lebih dalam. Apakah ini sekadar kelambanan. Atau ada sesuatu yang sengaja dibiarkan?

Kecurigaan publik pun bergerak ke arah yang lebih sensitif. Jangan-jangan para pelaku bukan orang sembarangan. Jangan-jangan mereka memiliki kedekatan dengan lingkar kekuasaan lama. Apalagi mereka selama ini dikenal punya jejaring kuat, lentur, dan sulit disentuh. Si Manusia Merdeka Muhammad Said Didu menyebutnya sebagai Geng SOP (Solo, Oligarki, Parcok).

Apakah ini kebetulan? Atau justru bagian dari pola yang lebih besar? Di sinilah kita harus mulai melihat persoalan secara utuh.

Polemik “Prabowo vs Iran” sejak awal memang problematis. Kita ulang pelan-pelan. Pernyataan yang dipersoalkan itu, jika dilihat dalam konteks lengkap, justru mengandung makna positif. Ini tentang keteguhan. Tentang sikap tidak tunduk pada tekanan. Namun satu frasa dipotong, dilepas dari konteks, lalu diubah menjadi narasi yang berlawanan. Dari pujian menjadi hinaan. Dari pengakuan menjadi konflik.

Prabowo tidak sedang salah ucap atau keseleo lidah. Juga bukan sekadar beda tafsir. Ini adalah teknik lama dalam propaganda: memotong konteks untuk membentuk persepsi. Ini bukan spontan. Ini kerja.

Dan seperti semua operasi yang rapi, kerja-kerja seperti ini tidak berdiri sendiri. Ada pola yang bisa dibaca. Lapisan paling depan adalah para penyebar: buzzer, akun anonim, dan micro-influencer yang memanfaatkan potongan video untuk menciptakan sensasi. Mereka dapat imbalan remah-remah untuk sekadar bertahan hidup. Di belakangnya, sangat mungkin ada kepentingan politik domestik. Kekuatan lama yang tidak sepenuhnya rela melihat posisi Prabowo semakin kokoh dan stabil.

Bagi kelompok-kelompok ini, menjatuhkan secara langsung mungkin sulit. Tapi melemahkan dengan perlahan melalui erosi kepercayaan adalah strategi yang jauh lebih efektif. Cukup ciptakan keraguan. Bangun jarak antara pemimpin dan basis pendukungnya. Dan salah satu basis yang paling sensitif adalah umat Islam yang memiliki simpati besar terhadap perjuangan Iran.

Iran, dalam konteks global, bukan sekadar negara. Ia simbol perlawanan terhadap hegemoni Amerika dan agresi Israel. Ketika narasi dibangun seolah-olah Prabowo merendahkan Iran, maka yang disasar bukan hanya citra politik, melainkan emosi ideologis umat. Jika narasi ini dipercaya, maka akan terbentuk jarak psikologis yang berbahaya. Umat yang selama ini bersimpati kepada Iran bisa merasa bahwa pemimpin nasionalnya berada di posisi yang berseberangan.

Prabowo dalam ancaman

Di titik ini, dampaknya menjadi strategis. Pertama, kepercayaan terhadap kepemimpinan nasional terkikis bukan karena kebijakan, tetapi karena persepsi yang dimanipulasi. Kedua, umat terpecah dalam menyikapi isu global. Sebagian terprovokasi, sebagian defensif. Polarisasi ini hanya menguntungkan pihak-pihak yang sejak awal ingin melihat Indonesia tidak solid.

Tidak berhenti di situ, kemungkinan adanya irisan kepentingan asing juga tidak bisa diabaikan. Dalam peta geopolitik, negara seperti Indonesia selalu menjadi arena perebutan pengaruh. Membenturkan figur pemimpin nasional dengan simbol perlawanan global seperti Iran adalah langkah efektif untuk menciptakan kebisingan, kebingungan, dan pada akhirnya melemahkan posisi Indonesia di mata dunia.

Di tengah semua itu, publik kembali berada di posisi yang rawan: menjadi objek. Setiap potongan video ditelan mentah-mentah. Setiap narasi emosional langsung disebarkan. Tanpa sadar, masyarakat justru menjadi perpanjangan tangan dari operasi yang tidak mereka pahami sepenuhnya.

Inilah wajah baru konflik. Bukan lagi perang terbuka, melainkan perang makna. Bukan lagi adu kekuatan fisik, tapi adu persepsi. Dan dalam perang seperti ini, yang paling berbahaya bukan kebohongan itu sendiri. Kebohongan yang terasa seperti kebenaran karena diulang terus-menerus jauh lebih berbahaya.

Pada akhirnya, kita harus kembali ke pertanyaan awal: mengapa ini dibiarkan? Jika aparat memiliki kemampuan, jika hukum tersedia, jika jejak digital bisa ditelusuri, maka diamnya penegakan hukum bukan sekadar kekosongan. Ia adalah sinyal. Tanda. Prabowo dalam ancaman. Dia tidak sedang diserang di depan. Tapi dibusukkan dari dalam. Digerogoti dari belakang.

Karena itu, persoalan ini tidak bisa lagi dilihat sebagai isu sepele. Ini bukan tentang Prabowo semata. Ini bukan tentang Iran semata. Ini tentang siapa yang mengendalikan narasi di negeri ini. Tentang untuk kepentingan siapa narasi itu dimainkan.

Jika kita tidak mulai menyadarinya sekarang, maka kita akan terus berada dalam lingkaran yang sama. Dipancing emosinya. Diarahkan reaksinya. Lalu dibiarkan saling berhadapan, berlawanan. Sementara mereka yang merancang semuanya tetap berada di balik layar. Tak tersentuh. Terus bekerja sampai syahwat ekonomi dan kekuasaan majikan mereka terpenuhi. []

[Penulis adalah wartawan senior]

pasang iklan di sini
octa vaganza