hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi
Fokus  

Mudik dan Kembalinya Rutinitas

Mudik Lebaran
Ilustrasi/Dok. Ist

PeluangNews, Jakarta – Sebagian masyarakat Indonesia telah kembali menjalani rutinitas setelah merayakan Idulfitri 1447 Hijriah/2026 Masehi.

Jalan-jalan di Jabodetabek pun mulai tampak ramai dengan lalu lintas kendaraan.

Selama beberapa hari di saat hari Lebaran, jalan-jalan protokol tampak sepi karena ditinggal penduduknya yang mudik ke kampung halaman.

Kini, aktivitas hampir kembali normal. Pelayanan publik seperti Puskesmas juga telah berjalan kayak semula. Kantor-kantor dan tempat usaha lainnya pun mulai menggeliat.

Puncak arus balik diprediksi terjadi dalam tiga hari utama, Selasa 24 Maret 2026, serta akhir pekan Sabtu-Minggu 28-29 Maret 2026.

Volume kendaraan tertinggi diprediksi mencapai lebih dari 285.000, melampaui puncak arus mudik, sehingga pemudik diimbau menghindari tanggal tersebut.

IdulFitri menjadi puncak mudik dan arus balik sepanjang tahun karena mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim. Mudik juga terjadi ketika menjelang libur Natal dan Tahun Baru, Idul Adha, dan Imlek.

Mudik Lebaran merupakan fenomena migrasi manusia secara besar-besaran yang biasa dilakukan menjelang perayaan IdulFitri.

Fenomena ini hanya terjadi di Indonesia. Mengapa mudik Lebaran begitu istimewa bagi masyarakat Indonesia?

Mudik Lebaran atau lebih tepatnya dari rantau pulang ke kampung halaman, daerah tempat dilahirkan, ke daerah orangtua dan kerabat berdomisili, atau ke daerah para leluhur dimakamkan, tidak hanya milik umat Islam yang telah selesai menjalankan ibadah Ramadan. Namun, mudik Lebaran telah menjadi tradisi yang melampaui batas ritus keagamaan (beyond of religion rites).

Ia telah menjadi tradisi milik bersama semua orang yang ingin merayakannya. Ia memiliki makna yang begitu mendalam bagi yang merayakan. Uang, kendaraan, dan tenaga tercurah untuk menuntaskan dahaga batin mudik Lebaran. Berjumpa dengan kerabat, tetangga, sahabat dan berziarah ke makam leluhur di tempat mudik menjadi aktivitas utama.

Pertemuan atau silaturahmi di hari Lebaran biasa disebut dengan halalbihalal dan ada juga yang menyebut “Syawalan” adalah acara kolektif di tempat mudik.

Acara ini juga biasa dilaksanakan di tempat-tempat orang bekerja dan di rumah pejabat publik. Itu semua adalah bagian dari perayaan Hari Raya IdulFitri.

Tetapi yang perlu harus selalu tertanam dalam diri kita yakni melaksanakan hakekat dari Idulfitri itu sendiri. Sebab Idulfitri memiliki makna kembali ke fitrah atau ke kesucian atau ke asal. Maksud kembali ke fitrah di dalam Alquran surat Ar-Rum ayat 30 berbunyi:

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Fitrah juga memiliki arti kembali ke sifat bawaan sejak lahir yaitu bersih dan suci setelah sebulan penuh melakukan berbagai amalan di bulan Ramadan.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa kembali ke fitrah ialah mereka yang telah melakukan upaya untuk membersihkan dan menyucikan diri.

Nah, di saat aktivitas telah kembali normal sejatinya kita untuk senantiasa mawas diri dalam mengisi kehidupan ini dengan menghindari perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji.

Jangan lagi, mengotori diri yang telah kembali ke fitrah dengan perbuatan yang buruk atau dosa. Jadilah manusia yang lebih baik sesuai dengan tuntunan pencipta-Nya untuk bekal mudik ke kampung akhirat.[]

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate