
PeluangNews, Ternate – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memperkuat infrastruktur pengendali sedimen di wilayah rawan bencana Gunung Gamalama, Maluku Utara. Pada tahun 2025, dua unit Sabo Dam tengah dibangun di Sungai Rua, Kota Ternate untuk mengurangi risiko banjir bandang dan lahar akibat erupsi gunung.
Menteri PU Dody Hanggodo saat meninjau lokasi pembangunan mengatakan bahwa sabo dam sangat penting untuk melindungi Ternate.
“Setiap kali hujan lebat, potensi longsoran dan aliran material dari gunung cukup besar. Karena itu, kita memerlukan beberapa Sabo Dam sebagai pengendali, penahan sedimen, dan longsoran agar tidak terbawa ke hilir. Infrastruktur ini akan membantu mencegah banjir bandang sekaligus melindungi permukiman dan infrastruktur lain di bawahnya,” ujar Menteri Dody di Ternate.
Ia menegaskan bahwa proyek harus berjalan sesuai rencana meskipun cuaca kerap menjadi tantangan.
“Proyek agar dikerjakan sesuai perencanaan teknis, efektif dan efisien. Walaupun musim hujan terkadang luar biasa, tetapi kami yakin proyek ini akan selesai tepat waktu,” tegasnya.
Dody juga menyambut baik kolaborasi antara Kementerian PU dengan pemerintah daerah setempat dalam pembangunan Sabo Dam Sungai Rua.
Pada tahun ini, dua titik sabo dam sudah dibangun, yakni Sabo Dam 1 dan Sabo Dam 2, disertai pembangunan tanggul pasangan batu pada alur sungai lama maupun sungai baru. Untuk Sabo Dam 3 direncanakan mulai dibangun pada 2026. Saat ini progres Sabo Dam 1 sudah mencapai 34 persen dan ditargetkan selesai pada Desember 2025.
Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku Utara M. Saleh Talib menjelaskan, sabo dam di Sungai Rua dibangun secara berseries untuk mengendalikan sedimen, memperlambat aliran debris flow, serta menahan material batu besar dari hulu.
“Sebagai mitigasi jangka panjang, kami merencanakan total 20 unit Sabo Dam di 11 sungai aliran Gunung Gamalama, yaitu Sungai Rua, Kastela, Taduma, Sasa, Monai, Batumerah, Maliaro, Marikurubu, Kulaba, Tabalolo, dan Haw Amadaha,” kata Saleh.
Ia menambahkan, pembangunan sabo dam merupakan tindak lanjut dari bencana banjir bandang 25 Agustus 2024 lalu yang menimbulkan kerusakan besar dan korban jiwa. “Pasca kejadian, kami langsung melakukan penanganan darurat berupa normalisasi alur sungai yang sedimentasinya tinggi dan menyusun Detail Engineering Design. Hasil survei menunjukkan Sungai Rua termasuk yang berpotensi mengalami kejadian serupa sehingga perlu segera dibangun sabo dam,” jelasnya.
Selain fungsi utama sebagai pengendali sedimen banjir bandang, sabo dam juga bermanfaat untuk melindungi daerah hilir, mencegah erosi, serta memelihara lingkungan. Infrastruktur ini bahkan bisa berfungsi serba guna sebagai jembatan, jalan, sarana irigasi, penyedia air baku, hingga mendukung pengembangan wilayah.