SERANG—The dream comes true atau mimpi menjadi kenyataan. Demikian ungkapan yang dikutip dari masyarakat Amerika bagi mereka yang punya impian yang tadinya tak mungkin, terwujud. Demikian yang terjadi pada Kalimah, seorang perempuan berusia 61 tahun medapatkan Hibah Rumah Siap Huni (HRSH) (non anggota) dari Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI).
Kisah warga Kampung Ciagel Barat, RT 005, RW 002, Desa Mongpok, Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang ini nyaris bagaikan cerita sinetron Indonesia yang kerap disiarkan sebuah televisi swasta. Sepanjang umurnya, Kalimah tak pernah merasakan dinginnya lantai keramik. Sejak kecil, untuk bisa mandi dengan air keran pun hanyalah sebuah mimpi.
Kalimah membesarkan anak-anaknya di rumahnya hanya berdinding bilik dan beratap rumbia. Angin malam yang menembus bilik rumahnya telah menjadi sahabatnya di kala tidur. Hidup minus tanpa kehadiran suami, semua dihadapi Kalimah dengan senyuman.
Presiden Direktur Koperasi BMI Kamaruddin Batubara meresmikan HRSH non anggota yang diberikan kepadanya, Rabu (7/7/21). Rumah gratis yang dibangun ulang dari nol oleh BMI adalah yang ke 303 sejak digulirkan 2015 silam, atau yang ke 7 di Cabang Pelayanan Petir.
Rumahnya yang dahulu beratap daun aren berganti asbes. Hamparan keramik menutupi semua lantai rumahnya mulai dari teras hingga dapur belakang. Dinding rumahnya pun sudah berganti hebel, catnya hijau menyejukkan. Kini Kalimah dan keluarga tak perlu meminjam WC tetangganya karena kamar mandi sudah dibangun oleh BMI.
“Saya ucapkan terima kasih kepada Kopsyah BMI. Padahal saya bukan anggota. Tapi BMI sudah bangun kami rumah. Nggak bisa ngomong apa-apa lagi. Terima kasih banyak Kopsyah BMI,” ucap Kalimah.
Presiden Direktur Koperasi BMI Kamaruddin Batubara mengatakan, HRSH ini merupakan bukti Kopsyah BMI berbeda dengan koperasi yang lain.
Dana pembangunan rumah ini berasal dari Infaq Rp1.000 yang setiap minggu dikumpulkan dari para ibu-ibu anggota BMI semua.
“Inilah bedanya koperasi dengan yang lain. Membantu sesama saudara kita yang kesusahan,” ujarnya.
Kamaruddin mengatakan, bahwa ada 5-7 lembaga keuangan yang beroperasi di desa. Berbeda dengan yang lain, BMI memiliki 19 kegiatan sosial yang menjadi pilar pemberdayaan sosial, tidak hanya bagi anggota namun juga masyarakat pada umumnya.
“Memang tidak masalah mau pinjam ke siapa, namun harus pandai mengukur, mampu tidak membayar semuanya. Di lapangan banyak yang melapor, urusan piutang saja dibahas mulai dari desa hingga pihak luar atau LSM,” jelasnya.
Dalan acara peresmian HRSH, protokol kesehatan (prokes) dilakukan secara ketat. Mulai dari masker dan penggunaan hand sanitizer. Tamu undangan sangat dibatasi sekali. Jarak antar tamu dibuat 1,5 meter, sehingga tak menimbulkan kerumunan. Sama halnya dengan operasional Koperasi BMI, setiap rembug pusat, protokol kesehatan merupakan kewajiban baik oleh anggota dan staf lapang yang bertugas.
Mereka yang hadir dari internal BMI yakni Direktur SDM Koperasi BMI Agus Suheraman, Manajer Pemberdayaan Kopsyah BMI M Suproni, Manajer DKTB Kopmen BMI Krisyanto, Manajer Area 05 Ferdiansyah Sunandar dan Manajer Kopsyah BMI Cabang Petir Rizky Ariyanto. Sementara dari pihak eksternal yaitu Camat Cikeusal Iman Saiman, Kades Mongpok Haji Bana dan perwakilan Danramil.
Sementara, Manajer Cabang Petir Rizky Ariyanto mengatakan, Ibu Kalimah tinggal di rumah yang sangat tidak layak bersama 2 orang anak. Suaminya sudah meninggal 20 tahun lalu. Keadaan rumah yang ditempati sangat memprihatinkan dengan keadaan sudah ditunjang dengan kayu penyangga tambahan yang lama kelamaan pasti akan lapuk juga.
“Rumahnya hampir 30 tahun belum dilakukan perbaikan, ketika hujan semua sisi ruangan mengalami kebocoran, apalagi ketika hujan diiringi angin kencang mereka sampai mengungsi ke rumah tentangga terdekat karena dikhawatirkan akan roboh,” jelasnya.
Rizky mencatat dalam memenuhi kebutuhan sehari hari, Kalimah kerja serabutan mulai dari buruh tani hingga memutil cabai milik tetangga. Tentu dengan pendapatan yang tidak menentu.








