
PeluangNews, Medan – Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman menegaskan komitmen pemerintah untuk mempercepat pemulihan usaha bagi pelaku UMKM inklusif, terutama penyandang disabilitas dan perempuan yang terdampak bencana di wilayah Sumatera Utara.
Saat memberikan motivasi dan penguatan kepada pelaku usaha inklusif di Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) KUMKM Provinsi Sumatera Utara di Kota Medan, Rabu (11/3), Menteri Maman menyatakan pemerintah berupaya memperkuat UMKM inklusif melalui pengembangan ekosistem usaha yang lebih adil dan berkelanjutan.
“Langkah tersebut dilakukan melalui pemberian legalitas usaha, peningkatan kapasitas pelaku usaha, akses pembiayaan, perluasan pemasaran, hingga pembukaan peluang kemitraan dalam rantai pasok,” ujar Maman.
Data Kementerian UMKM mencatat, jumlah pelaku usaha penyandang disabilitas di Indonesia mencapai sekitar 4,76 persen dari total UMKM, atau sekitar 1,3 juta pengusaha. Sementara itu, sebanyak 64,5 persen unit usaha di Indonesia dimiliki oleh perempuan.
Maman menjelaskan, pascabencana yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir 2025, kelompok pengusaha ultramikro yang tergolong miskin dan rentan—termasuk penyandang disabilitas serta perempuan kepala keluarga—menjadi pihak yang paling terdampak terhadap keberlangsungan usaha mereka.
Baca Juga: RUU Perkoperasian Masuk Fase Krusial, Gerakan Koperasi Sampaikan Aspirasi ke Fraksi NasDem
Karena itu, proses pemulihan usaha bagi kelompok tersebut memerlukan penguatan kapasitas yang terintegrasi dengan ekosistem kewirausahaan, sekaligus didukung pemanfaatan teknologi digital.
“Perempuan di Indonesia memiliki peran sangat strategis, bukan hanya sebagai penopang keluarga, tetapi juga sebagai fondasi kekuatan ekonomi nasional,” kata Maman.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Kementerian UMKM bersama UMKMIndonesia.id menggelar pelatihan literasi keuangan, kewirausahaan, dan manajemen usaha bagi 300 pelaku usaha mikro inklusif dari Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang, dan Kota Binjai. Kegiatan ini berlangsung di PLUT KUMKM Kota Medan.
Setelah mengikuti pelatihan, para peserta akan melalui proses kurasi untuk memperoleh pendampingan lebih intensif sekaligus peluang terhubung dengan mitra usaha yang lebih besar dalam ekosistem bisnis nasional.
Selain pelatihan, Kementerian UMKM juga menyalurkan bantuan melalui program #KitaJagaUsaha kepada 100 pelaku UMKM dari kelompok miskin atau desil 1–2 serta penyandang disabilitas.
Setiap penerima mendapatkan bantuan modal usaha sebesar Rp1 juta serta paket sembako. Penyaluran bantuan dilakukan melalui kerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM).
“Kegiatan serupa juga akan dilaksanakan di Aceh dan Sumatera Barat yang turut terdampak bencana. Ke depan, tidak menutup kemungkinan ada tambahan pendampingan bagi UMKM yang masih membutuhkan dukungan,” ujar Maman.
Lebih lanjut, ia menegaskan Kementerian UMKM terus menghadirkan berbagai program guna mempercepat perlindungan sekaligus pemulihan usaha bagi pelaku UMKM yang terdampak bencana.
Salah satunya melalui operasional Klinik UMKM Bangkit yang memberikan pendampingan kepada pelaku usaha untuk memperoleh akses pembiayaan, memperbaiki proses produksi, serta memperluas jaringan pemasaran agar aktivitas ekonomi mereka dapat pulih kembali.
Selain itu, pemerintah juga mengimplementasikan Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 2 Tahun 2026 yang memberikan kemudahan akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi UMKM terdampak bencana di tiga provinsi tersebut. Kebijakan ini diharapkan dapat memperkuat keberlanjutan usaha para pelaku UMKM.
“Kami berharap para pelaku usaha mikro dapat diringankan bebannya, bangkit kembali, dan mengembangkan usahanya seperti sebelum bencana,” kata Maman.
Dalam kesempatan tersebut, salah satu penerima manfaat, Uhwaina Lubis, menyampaikan apresiasinya atas perhatian pemerintah terhadap pelaku UMKM disabilitas.
“Saya sangat berterima kasih kepada Menteri UMKM atas terselenggaranya kegiatan ini. Saya merasa bahagia karena UMKM disabilitas kini semakin mendapat perhatian,” ujarnya.
Apresiasi juga disampaikan oleh Dewi Natadiningrat, pendiri Rumah Difabel Sharaswaty yang menggagas program Difabelpreneur. Menurutnya, bantuan yang diberikan akan sangat membantu para pelaku UMKM difabel untuk kembali mengembangkan usaha mereka.
“Alhamdulillah, kami sangat senang dengan kegiatan ini. Bantuan yang diberikan tentu sangat bermanfaat bagi para pelaku UMKM difabel yang tergabung dalam komunitas kami,” kata Dewi. (Aji)








