hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Menteri Koperasi dan UKM Nilai Koperasi BMI Layak Jadi Role Model Koperasi Indonesia

Koperasi BMI sudah menunjukkan karakter koperasi Indonesia yang berbasis pada kepedulian sosial, kebersamaan,  dan gotong royong. Koperasi multipihak yang tengah dikembangkannya juga sesuai dengan konsep model sirkuit ekonomi yang diharapkan Pemerintah.

Citra koperasi semakin positif di tengah masyarakat seiring dengan gebrakan yang dilakukan oleh pegiat koperasi, seperti ditunjukan Koperasi BMI. Melalui aktivitas tanggung jawab sosial yang beragam, Koperasi yang berpusat di Tangerang itu  berhasil membangun paradigma baru lembaga sokoguru ekonomi tersebut di Tanah Air.

Kamaruddin Batubara biasa disapa Kambara, Presiden Direktur Koperasi BMI mengatakan, tujuan membangun koperasi selain untuk kesejahteraan anggota juga untuk kesejahteraan masyarakat serta memberi dampak pada perekonomian. “Koperasi BMI tengah berupaya membangun peradaban baru koperasi Indonesia yang nantinya akan lebih memberi kontribusi bagi pemerataan ekonomi,” ungkap Kambara.

Paradigma baru koperasi Indonesia yang sedang dikembangkan setidaknya meliputi 5 (lima) hal mendasar. Pertama, koperasi itu harus besar sesuai dengan pesan Bapak Koperasi Indonesia  Bung Hatta. Kedua, koperasi harus profesional sehingga bisa dipercaya oleh anggota dan masyarakat. Ketiga, koperasi harus mandiri, berkarakter dan bermartabat sehingga bisa leluasa bergerak tanpa didikte oleh pihak manapun. Keempat, koperasi itu pemberdayaan, terutama untuk usaha anggota. Kelima, koperasi harus peduli pada sesama, atau menjalankan fungsi tanggung jawab sosial.  

Ungkapan Kambara tersebut bukan lahir dari ruang vakum sejarah, tetapi sudah dipraktikan secara nyata melalui Model BMI Syariah yaitu sebuah skema pelayanan dengan lima instrumen pemberdayaan berupa Sedekah, Pinjaman, Pembiayaan, Simpanan, dan Investasi melalui pengembangan budaya menabung dan pemberdayaan Zakat, Infaq, Sedekah , dan Wakaf (Ziswaf). Model BMI Syariah memiliki lima Pilar yaitu Ekonomi, Pendidikan, Kesehatan, Sosial, dan Spiritual.

Dalam Buku Model BMI Syariah yang ditulis Kambara, Model tersebut  bertujuan untuk menarik minat masyarakat sebanyak-banyaknya untuk menjadi anggota koperasi dengan layanan prima dan tetap membangun kinerja koperasinya.   Pencapaian Koperasi BMI seperti sekarang disebabkan implementasi Model BMI Syariah yang kini sudah diduplikasi oleh beberapa koperasi syariah di Tanah Air.

Seperti diketahui Koperasi BMI terdiri dari Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI) dan Koperasi Konsumen Benteng Muamalah Indonesia (Kopmen BMI). Keberhasilan Koperasi BMI selama ini tidak lantas membuat Kambara berpuas diri. Pria kelahiran Sumatera Utara ini terus berinovasi dengan memperjuangkan idealisme koperasi, Ini bisa dilihat dari rencana besar Koperasi BMI ke depan.

Menurut Kambara, pihaknya sedang menyiapkan pendirian dua koperasi lagi yaitu Koperasi Produsen Benteng Madani Indonesia dan Koperasi Jasa Benteng Madani Indonesia. “Kita saat ini baru punya dua koperasi di sektor keuangan dan koperasi konsumen. Insya Allah kita akan bangun pabrik bio etanol, pabrik pupuk hayati, air mineral di kawasan BMI yang sudah kita beli 20 hektare dari yang direncanakan 100 ha. Ada sawah, ada RS gratis, sekolah dari TK sampai Perguruan Tinggi semuanya gratis,” tegas Kambara penuh semangat.

Kehadiran dua koperasi baru tersebut akan melengkapi bisnis Koperasi BMI dari hulu hingga hilir. Hebatnya lagi semua menggunakan badan hukum Koperasi dan bukan Perseroan Terbatas. Bukan tanpa sebab jika Kambara ingin memperluas basis usaha dengan menggunakan badan hukum koperasi.  Baginya, koperasi adalah satu-satunya badan usaha yang ideal untuk melakukan pemerataan ekonomi dan sekaligus mengikis dominasi kapitalis.

Kiprah Koperasi BMI dengan Model BMI Syariah-nya mendapatkan apresiasi dari Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki. Menteri menilai, Koperasi BMI pantas menjadi kiblat bagi gerakan perkoperasian di Indonesia. “Saya lihat Koperasi BMI ini bisa menjadi role model bagi koperasi Indonesia. Koperasi BMI ini memang menjadi satu kebanggaan bagi Kementerian Koperasi,” ungkap Menkop saat hadir dalam peringatan Milad 8 Tahun dan 18 Tahun Operasional Koperasi BMI di Kabupaten Tangerang, 17 Maret 2021.  

Menkop Teten memberikan apresiasi atas aktivitas tanggung jawab sosial yang dilakukan Koperasi BMI. Ia sepakat bahwa koperasi seharusnya tidak hanya melakukan pemberdayaan terhadap ekonomi anggota tetapi juga melakukan berbagai terobosan usaha di sektor produksi, sehingga dapat menjadi koperasi model di Indonesia. Usaha koperasi tidak hanya sekadar besar tetapi juga harus memiliki karakter serta jati diri yang berbeda dengan koperasi di negara lain.

“Koperasi bukan hanya harus besar. Kalau sekadar besar banyak koperasi besar di negara maju, karena ekosistemnya bisa mengimbangi model bisnis di sana. Koperasi di Indonesia harus punya kepedulian sosial. Saya kira yang dilakukan oleh Koperasi BMI sudah menunjukkan karakter koperasi Indonesia yang berbasis pada kepedulian sosial, kebersamaan, dan gotong royong. Itu saya kira karakter koperasi kita” ungkap Menkop.

Menkop menambahkan, selama ini  Koperasi BMI tidak hanya melakukan kegiatan ekonomi saja tetapi juga membangun solidaritas sosial dan pemberdayaan masyarakat. Praktik inilah yang dinilainya sebagai model koperasi yang ideal untuk dikembangkan di Tanah Air. Oleh karenanya, Menkop mendorong agar koperasi lain mencontoh dan mengadopsi yang dilakukan oleh Koperasi yang genap beroperasi selama 18 tahun tersebut.

Perluasan usaha Koperasi BMI yang berencana mendirikan dua koperasi yang bergerak di sektor produksi dan jasa untuk memenuhi kebutuhan anggotanya juga mendapatkan lampu hijau dari Menkop. Sebab, hal itu sejalan dengan model sirkuit ekonomi yang terus didorong oleh Pemerintah melalui Kemenkop dan UKM. “Kebutuhan akan rumah sakit, beras, bahan material bangunan, dan sebagainya, harusnya mampu disediakan koperasi. Inilah yang dimaksud sebagai model sirkuit ekonomi,” ujar Menkop.

Melalui pengembangan sirkuit ekonomi koperasi multipihak tersebut, dana besar yang dimiliki anggota tidak akan lari kemana-mana. Ini sekaligus dapat menggeser model bisnis KSP yang selama ini lebih dominan membiayai sektor perdagangan. Ironinya, barang yang dijual itu merupakan produksi korporasi skala besar yang notabene bukan koperasi. Praktik yang sudah mandarah daging ini, bukan hanya menguntungkan pengusaha besar saja, tetapi juga tidak akan memberi dampak signifikan bagi kesejahteraan anggota koperasi. Padahal tujuan utama pendirian koperasi adalah mensejahterakan anggotanya.

Saat ini, kata Teten, ada banyak sektor ekonomi yang bisa dimasuki bahkan direbut koperasi. Ambil contoh sektor kelautan dan perikanan, yang saat ini didominasi pelaku UMKM. “Sektor kelautan dan perikanan merupakan salah satu sektor usaha  potensial yang besar belum banyak digarap koperasi. Ada ikan tangkap, budidaya ikan, rumput laut, dan lainnya.” ungkap Teten.

Menkop juga mendorong koperasi untuk masuk ke sektor produk berbasis teknologi, dengan dukungan hasil riset dari lembaga lain seperti BPPT, LIPI, dan perguruan tinggi. Jika ini dikerjakan niscaya akan membuat usaha anggota koperasi yang mayoritas skala UMKM cepat naik kelas.

Dengan sentuhan teknologi, maka produk-produk UMKM akan lebih mudah masuk dalam global value chain. Ini tentu akan berdampak positif bagi UMKM karena produknya akan terserap dalam putaran ekonomi dunia.

Dukungan dan apresiasi dari Pemerintah seperti disampaikan Menkop merupakan tambahan “vitamin” bagi Koperasi BMI untuk terus berinovasi demi mewujudkan pemerataan ekonomi sebagai bagian dari kontribusinya dalam merealisasikan Baldatun Thoyyibatun Warobbun Ghofur.

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate