JAKARTA—-Menteri Koperasi dan UKM teten Masduki meminta warung tradisional untuk masuk ke dalam rantai produksi (suplly chain) sehingga mendapatkan perlakuan yang sama dengan ritel moden, khususnya dalam masalah harga.
Teten juga mengatakan, warung tradisional berbenah agar bisa bersaing dengan ritel modern dengan meningkatkan kenyamanan berbelanja.
Selain itu warung tradisional juga diharapkan bisa masuk dalam suplly chain (rantai produksi) sehingga mendapatkan playing field (perlakuan yang sama) dengan ritel modern khususnya dalam masalah harga.
“Warung tradisional identik dengan ekonomi rakyat. Ketika sektor formal tak mampu menyerap tenaga kerja, maka membuka warung menjadi pilihan paling gampang. Karena itu tak heran di setiap pelosok kita menemukan warung,” kata Teten usai membuka Festival SRC (Sampoerna Ritel Community) di parkir timur Senayan Jakarta, Minggu (24/11/19).
Turut hadir dalam acara yang diikuti tiga ribu pemilik warung dari 10 kota besar, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif Kemenko Perekonomian Rudi Salahudin dan Ivan Cahyadi, Direktur HM Sampoerna.
Menkop dan UKM Teten menjelaskan, saat ini tercatat ada 1.131 peritel modern (belum termasuk jaringannya) yang menawarkan belanja nyaman, harga relatif murah dan praktis.
“Sementara warung tradisional yang jumlahnya jutaan, banyak memiliki kekurangan misalnya penataan barang, harga dan sebagainya. Mau tak mau warung harus berbenah agar bisa bersaing dengan ritel modern, syukur syukur ada aplikasi yang memungkinkan ada playing field yang sama misalnya dalam masalah harga dari pabrikan,” papar Teten.
Menkop dan UKM menyambut baik kiprah PT HM Sampoerna yang sejak 11 tahun lalu membina dan memberdayakan UKM melalui SRC.
“Hanya saja UKM jangan mau terus dibina, harus ada niat untuk naik kelas, dimana salah satu caranya ialah dengan masuk dalam skema pembiayaan perbankan,” saran dia.
Dengan masuk skema pembiayaan berbunga murah seperti KUR yang hanya 6% per tahun atau Kredit Ultra Mikro (UMi) yang cuma 4% per tahun, maka UMKM tersebut sekaligus mendapat bimbingan seperti manajemen pembukuan.
“Banyak warung soto yang laris, namun mereka tidak bankable karena masalah pembukuan yang kurang tertib,” ungkap Menteri.
Teten menguraikan, kesenjangan perekonomian Indonesia di mana gap antara pengusaha besar dan UKM terlalu lebar, memang harus diatasi, karena akan membahayakan jika dibiarkan.
Salah satu caranya ialah dengan melakukan kemitraan antara yang besar dan kecil, bukan dengan menarik yang besar ke bawah. Kemitraan menjadi sangat penting karena UKM tidak bisa berusaha sendirian, harus masuk dalam rantai produksi.
“Pemerintah akan mendukung, misalnya dengan membuka klinik konsultasi UMKM agar bisa berkembang,” kata Menkop dan UKM.








