
PeluangNews, Melonguane – Gelombang protes besar melanda Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, menyusul insiden penganiayaan yang diduga dilakukan oleh oknum anggota TNI Angkatan Laut terhadap warga sipil. Sebanyak 350 massa yang mengatasnamakan Aliansi Masyarakat Adat Melonguane menggelar aksi demonstrasi besar-besaran di depan Markas Komando Pangkalan TNI AL (Mako Lanal) Melonguane, Jumat (23/1/2026) siang.
Melansir tribunemanadi.co.id, massa aksi menyatakan tuntutan meminta agar Danlanal Melonguane Kepulauan Talaud dicopot dari jabatannya jika oknum pelaku tidak ditindak tegas. danbmeminta kapal Angkatan Laut di Pelabuhan Melongguane dilepas sementara dari wilayah kedaulatan kami sampai ada kepastian hukum. Pernyataan tegas ini sampaikan Bastian sebagai koordintor aksi masa
Aksi yang berlangsung di bawah pengawalan aparat tersebut sempat diwarnai ketegangan. Berdasarkan rekaman video yang beredar di media sosial, massa yang mengenakan ikat kepala merah tampak emosional dan merangsek masuk ke area markas sebagai bentuk kekecewaan atas kekerasan yang dialami oleh enam warga setempat.
Bastian, menegaskan bahwa aliansi masyarakat adat membawa tiga tuntutan krusial. Pertama, mereka meminta Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Panglima TNI untuk turun tangan menindak tegas oknum TNI AL yang menjadi pelaku penganiayaan terhadap Berkam Sawiduling dan korban lainnya.
Baca Juga: Bendung Katulampa Siaga 4, Hujan di Jakarta -Depok belum Reda
“Tuntutan kedua, kami meminta agar Danlanal Melonguane Kepulauan Talaud dicopot dari jabatannya jika oknum pelaku tidak ditindak tegas. Ketiga, kami meminta kapal Angkatan Laut di Pelabuhan Melongguane dilepas sementara dari wilayah kedaulatan kami sampai ada kepastian hukum,” tegas Bastian saat dihubungi melalui jurnalis di lapangan.
Selain itu, pihak keluarga mendesak adanya transparansi penuh dalam proses hukum dan meminta tanggung jawab moral serta materiil dari pihak Lanal Melonguane. Salah satu korban, Berkam Saweduling, yang berprofesi sebagai Guru SMK, dilaporkan mengalami luka cukup parah dan direncanakan akan dirujuk ke rumah sakit yang lebih memadai.
Kapolres Kepulauan Talaud, AKBP Arie Sulistyo Nugroho, S.IK., M.H., mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menerima laporan resmi terkait peristiwa tersebut. Menurut Arie, terdapat enam orang oknum TNI AL yang dilaporkan oleh masyarakat.
“Awalnya korban hanya satu orang. Namun, saat lima warga lain datang untuk menanyakan penyebab kejadian tersebut, mereka justru ikut menjadi korban penganiayaan. Jadi total ada enam korban warga sipil,” jelas AKBP Arie Sulistyo
Menanggapi aksi massa tersebut, Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Danlanal) Melongguane, Letkol Laut (P) Yogie Kuswara, memberikan keterangan resmi. Ia menyatakan bahwa mediasi antara pihak Lanal dan keluarga korban telah dilaksanakan.
“Sudah ada mediasi dan permasalahan tersebut telah diselesaikan dengan baik bersama keluarga korban. Kami dari pihak Lanal siap bertanggung jawab penuh atas kondisi para korban,” ujar Letkol Yogie.
Terkait proses hukum terhadap anak buahnya, Danlanal memastikan tidak akan tinggal diam. Ia menegaskan bahwa oknum prajurit yang diduga terlibat saat ini sedang diproses sesuai dengan ketentuan hukum militer yang berlaku di lingkungan TNI. Letkol Yogie juga mengapresiasi upaya masyarakat yang mau menempuh jalur dialog dalam penyelesaian masalah ini.
Hingga berita ini diturunkan, situasi di sekitar Mako Lanal Melonguane mulai kondusif, namun masyarakat adat menyatakan akan terus mengawal komitmen penegakan hukum hingga tuntas. (Elkana)








