Ketika frasa invisible hand muncul seiring terbitnya buku The Theory of Moral Sentiments (1759), publik Inggris tidak serta merta mafhum, walaupun mereka takjub bahwa perekonomian dapat bergerak secara bebas sesuai hukum pasar tanpa intervensi negara. Ide yang nyleneh memang, lantaran kala itu merkantilisme tengah berada di atas angin, sebuah kredo politik ekonomi kaum imperialis yang mengukur kekayaan negara dengan timbunan emas dan perak. Dan terpenting, kemakmuran negara tidak boleh di bawah perseorangan.
Dan Adam Smith, filosof asal Skotlandia itu datang seolah membawa mantra. Ia menggoncang benak publik dan membalik keadaan, bahwa perseorangan boleh saja menjadi kaya raya atas kebebasan alami (a system of natural liberty). Bahkan kekayaan perseorangan dapat menetes ke tengah lingkungannya. Kata Smith, seperti kita simak dalam bukunya paling fenomenal, The Wealth of Nations (1776), jika seorang tuan tanah atau pekerja memperoleh laba besar, ia tidak hanya mampu membiayai kehidupan keluarganya, ia pun dapat memanfaatkannya untuk mempekerjakan orang lain lebih banyak agar labanya meningkat. Makin besar laba diperoleh, semakin banyak orang yang dipekerjakan. Every individual endeavors to employ his capital so that its produce may be of greatest value.
Intinya, seperti diulas Yuval Noah Harari dalam Sapiens, Smith ingin mengatakan bahwa serakah itu bagus, dan hanya dengan menjadi kaya kita bisa menguntungkan semua orang, bukan hanya diri sendiri. Frasa yang juga digunakan Deng Xiao Ping ketika membawa perekonomian Cina go public. Menjadi kaya itu mulia, dan sosialisme tidak sama dengan kemiskinan, lalu lahirlah era Gaige Kaifang (reformasi dan keterbukaan) di tahun 1978.
Kritik keras Smith atas kaum merkantilis bahwa kekayaan negara tidak diukur oleh perdagangan asing dengan menimbun lantakan emas dan perak. Kekayaan sejati sebuah negara adalah produksi yang berasal dari kerja manusia dan sumber daya alam.
Jika Smith lebih cepat lahir, boleh jadi kaum merkantilis Portugis, Belanda, Inggris atau gampangnya VOC mungkin tak pernah berlayar ke bumi nusantara. Kongsi dagang yang semula datang dengan tujuan komersial semata, belakangan mempersenjatai armada dagangnya dengan meriam dan membangun banteng-benteng memerangi pribumi. Bukan peristiwa yang aneh kala itu, di bawah panji merkantilistis, sebuah perusahaan swasta sah saja mendirikan imperium dengan tentara dan pasukan lengkap. Bahkan di abad ke XVI itu, para raja dan bangsawan Eropa turut membiayai pelayaran samudera guna eksplorasi dan eksploitasi ke negara lain yang lemah.
Smith lahir seabad kemudian di tahun 1723, dan Hindia Belanda sudah menjadi koloni VOC, sebuah kebun besar yang menyulap Amsterdam yang kecil itu menjadi negara terkaya di Eropa. Tetapi jika pun ia masih hidup, tentu kecewa, konsep kekayaan dan kemakmuran kolektif itu tidak terbukti, sang pemenang mengambil semuanya.
Hanya omong kosong, kata komedian, Will Rogers (1879-1935), ketika mengejek kebijakan
Presiden Herbert Hoover mengatasi depresi ekonomi Amerika di tahun 1920 an. Ia menyebut trickle down, sebuah satire yang belakangan dalam teori ekonomi, popular dengan frasa trickle down effect, bahwa para pengusaha kaya harus diberi kemudahan dalam bisnis, seperti pengurangan pajak, konsesi lahan maupun akses ekonomi lainnya, Di masa Orde Baru, teori ini merupakan mantra sakti penguasa dalam kampanye pengentasan kemiskinan, lalu terbitlah kebijakan alih sahan perusahaan besar maksimal 5 persen ke koperasi. Hingga perusahaan besar itu bangkut diterjang krisisi moneter 1998, pegiat koperasi hanya menerima janji kosong. Teori rembesen ekonomi ke bawah justru menciptakan kesenjangan luar biasa antara pusat dan daerah.
Di tahun ketika The Wealth of Nations terbit, gagasan Smith sungguh revolusioner dalam sejarah manusia, dimana laba pribadi dapat bergulir menjadi kakayaan kolektif. Sejatinya Smith adalah pemikir imajinatif dengan banyak wawasan segar kata Fritjop Capra dalam bukunya Titik Balik Peradaban (The Turning Point). Dan kita pun tahu dari Einstein bahwa imajinasi lebih penting daripada pengetahuan. (Irsyad Muchtar)