INDRAMAYU—Kabupaten Indramayu, Jawa Barat dikenal sebagai salah satu daerah produsen mangga. Pada 2018 Indramayu menyumbang produksi sebesar 33. 483 ribu ton. Salah satu varietas mangga Indramayu yang terkenal ialah mangga cengkir.
Ciri khas mangga ini, ialah ukurannya besar, berdaging tebal, dan memiliki serat buah dan aroma yang khas. Rasanya manis dan teksturnya kering, tidak seperti mangga lain yang berair. Banyak yang menyukainya kala masih mengkal.
Seorang doker bernama Liana Mulyani memproduksi mangga cengkir ini menjadi manisan dengan brand Manisan Mangga Dokter Liana. Menurut Ady Dwiputra, Direktur Mangga Dokter Liana , sewaktu masih kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara, dia kerap rindu kampung halamannya terutama mangga cengkir, buah favoritnya.
Hal ini memberikannya inspirasi dan tercetus ketika pada pertengahan 2016, ada reuni dokter-dokter yang diadakan di Indramayu, dan salah satu hidangan yang disuguhkan adalah manisan mangga cengkir ala Dokter Liana.
“Banyaknya peminat (dokter-dokter alumni) membuat Ibu Liana menjadi semakin termotivasi untuk mengenalkan citarasa mangga Indramayu ke pasar yang lebih luas. pada 9 September 2016 Manisan Mangga Dokter Liana didirikan lengkap beserta perizinannya,” tutur Ady ketika dihubungi Peluang, Sabtu (8/5/21) lewat WhatsApp.
Lokasi usahanya berada di Jalan Cimanuk, Kelurahan Karanganyar, Karangmalang, Kec. Indramayu, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
Menurut Ady, Manisan Mangga Dokter Liana hanya menggunakan mangga Cengkir pilihan. Sebelum kami membeli bahan baku, kami melakukan proses grading untuk bahan baku utama kami, mangga Cengkir.
“Mangga Cengkir yang kami ambil 100% dari Indramayu karena kami bangga dan ingin mengangkat nama Mangga Cengkir Indramayu. Diproduksi di rumah kami, dan memiliki tenaga kerja 5 – 10 orang.,” tutur alumni Prasetiya Mulya Business School ini.
Pemasaran dilakukan baik fisik maupun daring, dengan kekuatan 27 rekan perorangan, tiga restoran, dan empat toko oleh-oleh yang tersebar di Indonesia. Area distribusi Manisan Mangga Dokter Liana mulai dari Jabodetabek, Pontianak, Solo, Surabaya, dan tentunya wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan.
“Pandemi Covid 19 membuat penjualan lesu. Pada Maret 2020 penjualan hampir tidak ada. Untuk strategi sampai sekarang kami mulai mencari jalur distribusi yang berbeda yang berbasis daring. Karena kami memang melihat penjualan secara fisik sudah mulai lesu karena banyaknya aturan seputar PSBB dan tendensi orang yang enggan berwisata, hingga larangan mudik,” ungkap Ady.
Sebagai catatan produk manisan mangga dibandrol dengan harga Rp25.000 (kemasan cup), Rp35.000 (kemasan toples) dan Rp120.000 (kemasan kotak). Manisan Mangga Dokter Liana praktis menjadi ikon oleh-oleh khas Indramayu dan ramai dipasarkan di marketplace.
Sementara Liana Mulyani ketika dihubungi dalam kesempatan terpisah mengatakan bahwa usahanya hanya bisa produksi sewaktu panen raya, untuk mendapatkan mangga cengkir kualitas super yang matang di pohon, karen masih segar. Untuk itu stok manisan disimpan dalam freezer. Untuk satu ton mangga hanya bisa didapat 40 kotak atau 40 kilogram manisan mangga.
“Produk manisan mangga kami tidak menggunakan pemanis buatan dan gula hanya lima persen, karena mangganya sendiri sudah manis. Penggunana gula pekat di atas 40% dan asin garam bisa berfungsi sebagai pengawet, tetapi tidak baik untuk kesehatan,” tutup Liana (Irvan)








