hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi
UMKM  

Mandira Heritage, Inovasi Puzzle AR Mahasiswa UGM

Mandira Heritage.
Mandira Heritage

PeluangNews, Surakarta — Expo Campuspreneur 2026 di Auditorium Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, Jawa Tengah, Rabu (1/4), menghadirkan beragam inovasi bisnis kreatif dari generasi muda.

Salah satu yang mencuri perhatian pengunjung datang dari Mandira Heritage, usaha rintisan mahasiswa yang menggabungkan permainan puzzle dengan teknologi Augmented Reality (AR) untuk memperkenalkan sejarah Nusantara secara interaktif.

Di antara puluhan stan yang dipamerkan, Mandira Heritage menghadirkan miniatur bangunan candi dalam bentuk puzzle edukatif bernama Mandira Puzzle. Produk ini tidak hanya menawarkan permainan bongkar pasang, tetapi juga menghadirkan visual tiga dimensi melalui fitur AR yang dapat diakses dengan memindai bagian tertentu dari puzzle.

Mandira Heritage merupakan inisiatif mahasiswa Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada (UGM) yang awalnya lahir dari proyek kompetisi kampus.

Kini, inisiatif tersebut berkembang menjadi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan misi meluruskan misinformasi sejarah sekaligus meningkatkan minat generasi muda terhadap warisan budaya.

Chief Finance Officer Mandira Heritage, Stefani Adelia, mengatakan rendahnya apresiasi masyarakat terhadap sejarah menjadi latar belakang munculnya ide tersebut. Menurutnya, banyak narasi sejarah yang berkembang tanpa kajian kritis dan akhirnya menjadi mitos.

“Tidak benar candi disusun menggunakan putih telur. Candi yang dibangun para leluhur kita terkenal awet dan kuat karena berbagai teknik kuncian dalam pembangunannya, misalnya teknik ekor burung. Prinsip-prinsip itulah yang kami adopsi dalam mekanisme permainan kami,” ujar Stefani.

Selain meluruskan fakta sejarah, Mandira Heritage juga ingin memperkenalkan candi-candi yang kurang populer, namun memiliki nilai historis tinggi. Beberapa di antaranya seperti Candi Gapuro Boko, Candi Banyunibo, hingga Candi Sukuh yang diangkat melalui produk Mandira Bricks, permainan miniatur candi berbasis susun.

“Beberapa candi di Yogyakarta memiliki potensi kuat untuk dijadikan objek wisata menarik. Namun karena tidak sebesar Prambanan atau Borobudur, candi-candi tersebut masih kurang dikenal. Kami berharap melalui permainan ini orang-orang bisa lebih mengenal candi-candi tersebut,” kata Stefani.

Salah satu edisi yang ditampilkan terinspirasi dari Candi Sojiwan di Klaten, Jawa Tengah, yang dikenal dengan relief fabel tentang karma dan konsekuensi perbuatan. Melalui permainan tersebut, pengguna tidak hanya merakit bentuk candi, tetapi juga memahami cerita dan pesan moral yang terkandung di dalamnya.

“Melalui permainan ini, kami ingin anak-anak tidak hanya tahu bentuk candinya, tapi juga memahami cerita dan pesan moral di baliknya,” jelasnya.

Inovasi lainnya ditampilkan melalui Mandira Bricks yang mengangkat kisah Candi Sukuh di Karanganyar, Jawa Tengah. Miniatur tersebut dilengkapi deskripsi singkat yang memudahkan pengguna memahami sejarah dan keunikan arsitektur candi yang berada di lereng Gunung Lawu tersebut.

“Orang-orang yang suka sejarah tentu tertarik, tetapi tantangan kami adalah bagaimana mereka yang bukan penggemar sejarah juga tetap melihat permainan ini menarik. Karena itu kami sertakan deskripsi singkat agar mudah dipahami,” tambah Stefani.

Kehadiran Mandira Heritage sejalan dengan tujuan Campuspreneur yang diinisiasi Kementerian Perdagangan, yakni mendorong lahirnya wirausaha muda berbasis inovasi dan berdaya saing global. Melalui pembinaan, pelatihan, dan jejaring yang tersedia, mahasiswa didorong untuk mengembangkan ide kreatif menjadi peluang usaha nyata.

Melalui kepingan puzzle sederhana, Mandira Heritage menghadirkan cara baru mempelajari sejarah—lebih dekat, interaktif, dan relevan bagi generasi muda. Di tengah perkembangan teknologi, inovasi ini menjadi upaya menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan dikenali lintas generasi.

 

pasang iklan di sini
octa vaganza