hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Manado, Dimensi ‘Kawanua’ dalam Makna Kontemporer

Manado tak kalah cantik dibanding kebanyakan gadis asal kota itu. Ekowisata bawah lautnya sedang tumbuh, berfokus di Bunaken. Kuliner hewaninya lengkap, termasuk jenis menu ekstrem. Umumnya Kristiani, tapi mereka toleran berkat semboyan “Torang samua basudara”.

.

DENYUT kehidupan di Kota Manado tipikal dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Pusat kota terdapat di Jalan Sam Ratulangi. Berbagai fasilitas sebuah ibu kota provinsi tersedia memadai. Akhir-akhir ini, mal-mal dan restoran-restoran tumbuh menjamur di sepanjang pantai. Menyiapkan fasilitas yang nyaman agar pengunjung bisa menyaksikan view senja. Mereka berlomba ‘menjual’ pemandangan indah saat-saat jelang mentari terbenam, sunset.

Memiliki potensi wisata yang besar, industri pariwisata di kota ini berkembang dengan pesar. Cukup banyaknya hotel dan sarana pendukung lainnya berdiri dalam satu-dua dasawarsa belakangan. Sampai dengan 2017, tersedia 172 buah hotel berbagai level, 6 di antaranya kategori berbintang 5. Bandara Sam Ratulangi—yang sanggup didarati pesawat Boeing 777-200 dan Airbus A330—terhubung dengan beberapa kota besar di Indonesia, Singapura, Kuala Lumpur dan Davao-Filipina.

Mayoritas penduduk berasal dari suku Minahasa, menyusul Sangihe Talaud, Bolaang Mongondow,  Gorontalo dan  Tionghoa. Warga kota umumnya pemeluk agama Kristen atau Katholik. Banyaknya gereja di seantero kota menceminkan hal itu. Namun, masyarakat sangat menghargai sikap hidup toleran, rukun, terbuka dan dinamis. Karenanya, kota ini memiliki lingkungan sosial yang relatif kondusif dan dikenal sebagai salah satu kota yang relatif aman di Tanah Air.

Tak berlebihan Kota Manado menggunakan motto “Si Tou Timou Tumou Tou”. Yaitu filsafat hidup masyarakat Minahasa yang dipopulerkan Sam Ratulangi. Artinya, “Manusia hidup untuk memajukan orang lain” atau “Orang hidup menghidupkan orang lain”. Dalam keseharian, masyarakat Manado sangat menjunjung semboyan “Torang samua basudara” (“Kita semua bersaudara”). Itu bahasa Melayu Manado. Beberapa kata dalam dialek Manado berasal dari bahasa Belanda dan Portugis karena keduanya di masa lalu pernah menjajah di sana.

Masyarakat Manado juga disebut dengan istilah “warga Kawanua”. Dalam bahasa daerah Minahasa, “kawanua” berarti “penduduk negeri” atau “wanua-wanua” yang bersatu atau “Mina-Esa” (Orang Minahasa). Kata “kawanua” diyakini berasal dari kata “wanua”, yang dalam bahasa Melayu Tua (Proto Melayu) berarti “wilayah permukiman”. Dalam bahasa Minahasa, kata “wanua” berarti “negeri atau desa”.

Manado merupakan tempat pariwisata yang penting. Khususnya ekowisata. Selam, scuba dan snorkelling di Pulau Bunaken merupakan atraksi populer. Primadona pariwisata kota ini, bahkan Provinsi Sulawesi Utara, adalah Taman Nasional Bunaken, salah satu taman laut terindah di dunia. Lokasinya sekitar 8 km dari pusat kota, sekira setengah jam perjalanan. Keindahan bawah laut merupakan keunggulan kota ini. Hampir semua spesies ikan dan terumbu karang di dunia terdapat di Laut Bunaken ini.

Seperti dapat disaksikan di Sumatera dan wilayah Indonesia bagian timur, Manado memiliki sebuah lokasi untuk balapan kuda. Pacuan itu terdapat di Ranomuut Race Track, di sebelah timur, menuju ke bawah kota. Biasanya digunakan untuk balap kuda, kereta kuda/bendi dan kereta yang ditarik dengan kerbau. Lapangan golf yang dikelilingi oleh pohon-pohon kelapa terdapat di daerah Kayuwatu.

Pada akhir tahun 2007, diresmikan Monumen Yesus Memberkati, yang menjadi ikon baru Kota Manado. Patung itu berdiri di atas bukit di perumahan Citraland Manado, dengan ketinggian 50 meter di atas permukaan tanah. Inilah monumen Yesus Kristus tertinggi di Asia dan kedua di dunia, setelah Christ the Redeemer. Melengkapi koleksi kota ini, yang telah memiliki Patung Menorah (simbol Yahudi) terbesar di dunia.

Selain memiliki objek-objek wisata yang menarik, salah satu keunggulan pariwisata kota Manado adalah letaknya yang strategis ke objek-objek wisata di hinterland, khususnya Minahasa. Tak banyak diketahui karena belum viral, di Manado terdapat Pantai Moinit, pantai air panas satu-satunya di dunia. Rekor lainnya: Bitung merupakan habitat bagi primata terkecil di dunia, Tarsius namanya.

Kuliner Manado juga kaya. Sebut saja tinutuan (bubur Manado) yang terdiri dari berbagai macam sayuran; cakalang fufu, baik cakalang fufu saos maupun cakalang fufu santan, yaitu ikan cakalang yang diasapi sebagai menu yang sangat direkomendasikan untuk dicicipi, ikan roa, kepala ikan kakap bakar; paniki (masakan dari kelelawar) dan er-we (masakan dari daging anjing), babi putar, babi isi bulu (dibakar di dalam bambu) dengan minuman khas saguer. Nasi kuning Manado punya cita rasa dan penyajian berbeda dengan nasi kuning pada umumnya.

Khazanah budaya terkait dengan seni musik diwakili oleh alat musik tradisional yang dikenal dengan nama “kolintang”. Alat musik kolintang dibuat dari sejumlah kayu yang berbeda-beda panjangnya sehingga menghasilkan nada yang berbeda-beda pula. Dalam hal tari-tarian, masyarakat memiliki ikon tari Kabasaran atau disebut juga tari Cakalele. Tarian yang pada awalnya sakral dewasa ini lazim dipertunjukkan dalam acara penyambutan tamu penting atau pergelaran-pergelaran budaya.●(dd)

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate