JAKARTA— Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman memproyeksikan permintaan untuk sejumlah jenis produk olahan tetap tumbuh selama implementasi PPKM Darurat.
Jenis produk yang berpeluang naik permintaannya mencakup produk pangan pokok dan produk olahan bergizi seperti produk turunan susu. Produk susu disebut menjadi salah satu penyumbang pertumbuhan dan investasi industri mamin.
“Berdasarkan tren yang terjadi pada tahun lalu, permintaan produk susu naik tinggi sekali. Untuk investasi bahkan naik 24 persen dan di kuartal I tahun ini investasi pangan naik 224 persen ditunjang dari industri pengolahan susu,” ungkapAdhi, Kamis (1/7/21).
Selain itu permintaan produk yang menunjang aktivitas memasak di rumah naik, di antaranya adalah produk bumbu, tepung, dan makanan beku akan melonjak.
Sementara untuk jenis produk yang berpeluang terkoreksi permintaannya, mencakup produk indulgent (memanjakan) seperti es krim dan cokelat. Penurunan sendiri lebih banyak dipengaruhi oleh berkurangnya kegiatan.
Meski melihat adanya potensi penurunan terhadap segelintir jenis produk, Adhi memperkirakan pembatasan kegiatan masyarakat selama PPKM Darurat tidak akan terlalu berpengaruh pada pertumbuhan total industri mamin. Dia hanya mengharapkan pembatasan tidak berlangsung lama dan bisa kembali dilonggarkan dalam waktu dekat.
Mengutip pokok kebijakan PPKM Darurat Jawa dan Bali yang diberlakukan pemerintah mulai 3 Juli sampai 20 Juli 2021, industri kritikal seperti energi, kesehatan, keamanan, logistik, makanan dan minuman, petrokimia, semen, dan objek vital nasional, dan industri pemenuhan kebutuhan pokok diperkenankan untuk beroperasi 100 persen dengan protokol kesehatan secara ketat.
“Produsen mamin akan tetap berproduksi selama implementasi PPKM Darurat dan memastikan distribusi produk tetap berjalan normal,” pungkasnya.








