NGAWI—Baiti Alfarisa, warga Desa Kuniran, Sine, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur gemar akan camilan keripik pisang, Hanya saja dia bosan dengan keripik pisang yang ada di daerahnya, sementara favoritnya keripik pisang Lampung sulit diakses.
“Akhirnya iseng meracik bumbu buat keripik pisang sendiri dan dibagikan ke teman-teman untuk tes rasa, akhirnya mereka suka. Alhamdullilah respon bagus dan jadilah Macida Nana, brand usaha keripik pisang yang saya jalankan,” ujar perempuan kelahiran 1984 ini kepada Peluang, Senin (31/5/21).
Baiti menjual dengan berbagai varian rasa, mulai dari keju, teh hijau, cokelat, dan susu. Alumni sebuah sekolah tinggi ekonomi di Yogyakarta ini membutuhkan sehari penuh untuk memproduksi 100 bungkus dan membutuhkan dua tandan pisang raja.
Pisang raja dipotong manual dengan pasah. Barulah digoreng langsung di minyak panas. Setelah selesai digoreng, ditiriskan semalam. Esok harinya baru ditaburi bumbu bumbu kualitas premium. “Setelah itu siap dipasarkan,” tambahnya.
Baiti mulai usahanya pada Agustus 2020. Hingga kini kurang lebih telah terjual 3.500 bungkus kemasan 120 gram. Dengan harga Rp 15 ribu. Pasarannya bukan hanya Ngawi, tapi juga masuk ke Jabodetabek, Solo dan Kalimantan. Sebulan rata-rata Baiti mendapat omzet Rp15 juta.
Ke depan, mantan karyawan sebuah perusahaan pertambangan ini ingi mengindonesiakan Macida Nana atau dengan kata lain tersebar di seluruh Indonesia,.
“Tentunya saya ingin go international, tapi masih jauh, tetapi fokus ke dalam negeri dulu,” pungkasnya (Irvan).








