hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Lewat Cilet Cokelat, Supriadi Tampilkan Budaya Aceh dalam Kemasan

BANDA ACEH—Terinspirasi dari hobi makan cokelat dan melihat potensi cokelat yang cukup besar di Provinsi Aceh mendorong Supriadi, seorang warga Banda Aceh mendirikan produk olahan cokelat dengan brand cilet cokelat.

Pria kelahiran 1984 ini menggunakan tabungannya sebesar Rp4 juta untuk memulai produksi dan menjalankan usaha. Lewat media cokelat ini pria yang karib disapa Didi ini inin  memperkenalkan budaya Aceh ke masyarakat luas.

Cokelat tersebut dikemas dengan gambar-gambar pahlawan Aceh, seperti Teuku Umar, Tjut Nyak Dhien, dan Laksamana Keumalahayati, adat,budaya, wisata, tarian di cover coklatnya

Tujuannya agar anak-anak muda di Aceh itu sambil makan cokelat juga belajar tentang pahlawan-pahlawan Aceh. Informasi yang ditampilkan lengkap dengan tempat, tanggal lahir, dan tanggal wafatnya.

“Produksi pertama kita cokelat dalam tulisan biasa disebut coklat pralin, dan dipasarkan ke mahaswa-mahasiswa yang buat acara graduation, sidang, yudisium, dan wisuda,” ungkap Didi kepada Peluang, Kamis (7/10/21).

Kini produk  Cilet sudah mempunyai  35 varian dalm bentuk cokelat bar dan minuman, dijual dari harga Rp5 ribu sampai dengan  Rp35 ribu.  Pemasarannya sekarang melaui media luring di Penayong dan daring  di beberapa sosial media, seperti Facebookm WhatsApp  hingga marketplace.

Cilet Cokelat mampu produksi bulanan berkisar 2.000 hingga 4.000 pieces per bulandengan jumlah karyawan 5 orang sebagiannya disabilitas.  Ruang lingkup pemsarannya masih lokal. Didi sudah memiliki tiga outlet Cilet Cokelat di Banda Aceh masing-masing di Jambo Tape, Mal Pelayanan Publik Pasar Atjeh, dan Penayong.

Sarjana ekonomi ini mengaku pandemi covid ini sangat berdampak pada usaha, karena tidak adanya kunjungan wisata ke aceh, karena kami mengambil sekmen pasar lebih ke wisatawan.

Namun dirinya  tidak tinggal diam diri dan  tetap berusaha dengan cara mengolah bubuk coklat menjadi minuman serta minuman lainnya untuk dapat memutar perkonomian.

“Alhamdulillah kami bisa bertahan sejauh ini dan kami mengolah beberapa menu harian juga buat di jual secara harian,” ucapnya.

Didi mengaku juga merasakan manfaat menjadi mitra Bank Indonesia sejak 2017.  Manfaat yang dirasakan sangat banyak. Pertama adanya relasi baik di lokal maupun nasional, serta netwoking, dan bertambahnya ilmu melalui pelatihan-pelatihan yang diberikan serta kerja sama dalam beberapa event baik lokal maupun nasional.

“Ke depan harapan  ingin memiliki gerai yang bagus, serta produk kami bisa beredar di seluruh indonesia,” tutupnya (Irvan).

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate