hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

KWT Pantastik, “Hidupkan” Kembali Tanaman Lokal Hanjeli

SUMEDANG—-Hanjeli (Coix lacyma-Jobi L.)  adalah tumbuhan biji-bijian tropis dari suku padi-padian atau poaceae merupakan tanaman rakyat populer di kalangan masyarakat Sunda. Tanaman pangan ini punya nilai kearifan lokal, karena nenek moyang menanam hanjeli bukan untuk diperjualbelikan tetapi sebagai cadangan pangan bilamana terjadi kegagalan panen akibat hama dan kemarau panjang. Masyarakat juga memanfaatkan beras hanjeli untuk bahan membuat kue tradisional.

Sayangnya tanaman lokal seperti hanjeli ini baik dalam bentuk gabah maupun beras semakin langka. Hal ini  membuat petani tidak lagi mempunyai cadangan pangan dan bergantung pada beras padi sebagai bahan makanan pokok.   Sedangkan jagung dan ketela pohon adalah komoditas ekonomi yang dijual bukan untuk konsumsi  karena rasa dan teskturnya berbeda dengan nasi. 

Berangkat dari keinginan mengembalikan kearifan lokal, sekaligus menyelamatkan dari kemungkinan punah  ini Anisa Choeriah dan teman-temannya di  Dusun Cikawung, Desa Sukajadi, Kecamtan Wado, Kabupaten Sumedang mendirikan Koperasi Warga Tani (KWT) Pantastik pada 14 Januari 2015.

Selain itu pendirian koperasi  juga bertujuan meningkatkan kesejahteraan petani yang cenderung menurun, seiring dengan semakin berkurangnya lahan pertanian akibat alih fungsi dan rendahnya kepemilikan lahan pertanian

“Pantastik sendiri adalah singkatan  Panganan ti Sukajadi Unik dan Anti,” ujar Anisa kepada Peluang, Kamis (21/1/21).

KWT Pantastik mengolah hanjeli menjadi aneka macam produk mulai dari beras, tepung sereal, teng-teng, kerupuk, opak, rengginang, cookies, brownies kukus dan sebagainya.  Produk  hanjeli ini sudah memiliki PIRT, Halal dari BPOM MUI, dan uji lab produk.  

Produk hanjeli ini sudah dipasarkan ke kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya dan beberapa daerah di luar Jawa.

“Saat ini jumlah anggota sampai Desember adalah 62 orang. Omzet pada Tahun Buku  2019 mencapai Rp260 juta. Namun  di masa pandemi Covid19  pada 2020 menurun menjadi Rp148 juta. Aset koperasi sebesar Rp320 juta. Sementara luas lahan keseluruhan milik anggota mencapai 6 hektar,” ungkap Anisa.

Menurut dia pengetahuan masyarakat terhadap hanjeli masih terbatas, sehingga pasar yang masih terbatas. Pihaknya harus banyak mengikuti pameran dan kegiatan lainya dalam mengenalkan hanjeli.

“Saat ini belum adanya program terpadu pengembangan hanjeli secara lokal maupun nasional baik oleh pemerintah maupun lembaga lainnya. Produktivitas hasil panen hanjeli masih rendah, karena keterbatasan penelitian dan SDM petani,” tambahnya.

Ke depan KWT Pantastik berencana menjadikan hanjeli sebagai sumber pangan alternatif di Indonesia dan menjadikan Sumedang sebagai pusat sentra budi daya dan produksi olahan hanjeli hingga meningkatkan kesejahteraan petani hanjeli, baik anggota KWT Pantastik maupun petani binaan.

Ketekunan KWT Pantastik, membuat koperasi ini  meraih sejumlah penghargaan di antaranya, Juara 1 Adhikarya Pangan Nusantara Jawa Barat 2018, Juara 3 Produk Terbaik Cooperative Fair Jawa Barat Tahun 2019, Finalis Kreatif Food dan Foodstarup Bekraf Tahun 2018 (Van).

pasang iklan di sini
octa vaganza