hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Kurikulum Koperasi Masuk Kampus, Serius?

Gagasan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Brian Yuliarto yang akan mewajibkan mata kuliah koperasi untuk masuk ke dalam kurikulum di perguruan tinggi menarik perhatian banyak pegiat koperasi di Tanah Air. Tak sedikit yang berharap inisiatif ini tak berhenti hanya sebagai formalitas: sebatas menjadi salah satu nama mata kuliah di KRS.

Upaya mendorong kampus untuk mengajarkan mata kuliah koperasi ini diharapkan dapat menjadi momentum strategis bagi reaktualisasi peran koperasi dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Kebijakan ini menandai pergeseran cara pandang negara bahwa koperasi bukan sekadar badan usaha alternatif, tetapi fondasi kelembagaan ekonomi yang perlu dipahami, dihayati, dan dipraktikkan secara serius oleh generasi terdidik.

Wakil Rektor III Institut Koperasi Indonesia (Ikopin) University Ahmad Subagyo meyakini koperasi penting diajarkan dalam mata kuliah Ekonomi Politik Internasional/Global karena menawarkan kerangka kerja ekonomi dan sosial yang berbeda dari model kapitalis atau sosialis tradisional yang sering mendominasi studi ini.

“Ekonomi politik global sering berfokus pada perusahaan multinasional dan negara-bangsa. Koperasi memperkenalkan model berbasis keanggotaan dan kepemilikan bersama yang mendistribusikan kekayaan dan kekuasaan secara lebih merata, menantang asumsi dominan tentang organisasi ekonomi global,” ujarnya.

Sayangnya, selama ini pengajaran koperasi di banyak perguruan tinggi cenderung terjebak dalam pendekatan “manajemen koperasi” yang menekankan aspek teknis: organisasi, permodalan, laporan keuangan, rapat anggota, dan legalitas kelembagaan. Pendekatan ini penting, tetapi hanya menyentuh permukaan koperasi sebagai “institusi”, belum menyentuh koperasi sebagai “nilai” yang menginternal dalam cara berpikir dan bertindak.

 

Materi Studi Ekonomi Internasional?

Yang menarik, materi koperasi juga akan dijadikan bahasan strategis di program studi hubungan internasional. Bagaimana penjelasannya?

Subagyo mengatakan bahwa koperasi beroperasi secara lintas batas dan memiliki perwakilan di badan-badan internasional seperti Organisasi Buruh Internasional (ILO) dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Aliansi Koperasi Internasional (ICA). Mereka memainkan peran dalam membentuk kebijakan perdagangan, ketenagakerjaan, dan pembangunan global, yang merupakan inti dari ekonomi politik internasional.

Koperasi juga menunjukkan ketahanan yang signifikan selama krisis ekonomi. Karena itulah, studi kasus tentang bagaimana koperasi mengatasi krisis finansial global atau bencana alam menjadi sangat relevan dan dapat memberikan wawasan penting tentang ketahanan ekonomi di tingkat global.

Ketua Umum ADEKMI ini menilai ide untuk memasukkan koperasi menjadi mata kuliah Ekonomi Politik Internasional/Global juga sejalan dengan lanskap ekonomi global dan pembangunan yang berkeadilan.

Pendirian Aliansi Koperasi Internasional (International Co-operative Alliance – ICA) pada tahun 1895 menjadikannya salah satu organisasi non-pemerintah tertua di dunia. Organisasi koperasi dari negara maju juga telah memberikan bantuan signifikan dalam pembangunan kapasitas koperasi di negara berkembang, seperti CLUSA (Cooperative Leagues of United States of America) di Amerika Latin, Afrika, dan Asia, CUNA (Credit Union National Association) yang membantu mendirikan koperasi simpan pinjam (Credit Union) di berbagai negara, atau ACDI (Agricultural Cooperative Development International) yang memberikan bantuan teknis dan finansial untuk pengembangan koperasi pertanian global.

 

Dari Manajemen Koperasike Mindset Koperatif

Yang tidak kalah penting, untuk merespons gagasan Menrisdikti, Subagyo menawarkan agar titik berangkat untuk memasukkan pelajaran koperasi di kampus bukan “bagaimana mengajarkan manajemen koperasi”, tetapi “bagaimana membentuk cara pandang koperatif pada mahasiswa”.

Dalam hal ini, menurut dia pengajaran koperasi harus mampu menyentuh tema Koperasi sebagai nilai (values), Koperasi sebagai identitas sosial dan ekonomi, Koperasi sebagai prinsip-prinsip kelembagaan, serta Koperasi sebagai cara pandang (worldview) dalam berekonomi dan bermasyarakat.

“Dengan pendekatan ini, mata kuliah koperasi tidak lagi menjadi pengetahuan tentang lembaga tertentu, tetapi menjadi kacamata berpikir yang bisa dibawa mahasiswa ke berbagai sektor: keuangan, pertanian, digital, kreatif, kesehatan, pendidikan, hingga pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular—bidang-bidang yang selama ini sangat dekat dengan kerja-kerja koperasi,” lanjutnya.

Gagasan untuk mewajibkan mata kuliah koperasi di perguruan tinggi ini tentu akan membuka peluang besar bagi transformasi cara pandang kaum Gen Z tentang ekonomi, bisnis, dan masyarakat.(Drp)

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate