JAKARTA—-Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengakui pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali terkoreksi negatif pada kuartal III/2020.
Jokowi meminta realisasi tahun depan dirancang dari sekarang agar realisasi bisa berjalan sejak awal tahun.
“Begitu Bapak Ibu menerima DIPA itu bisa ada lelang, sehingga kita harap Januari, Februari, Maret tidak stuck,” ucap Jokowi dalam pembukaan sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Senin (2/10/2020).
Jokowi mengatakan, realisasi bantuan sosial menjadi prioritas untuk dikebut. Konsumsi rumah tangga menjadi satu persoalan yang membuat pertumbuhan ekonomi kuartal II dan kuartal III terkoreksi negatif.
Hal yang penting lainnya menurut Presiden adalah belanja-belanja modal, terutama infrastruktur di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Perhubungan, dan kementerian lain.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal ketiga terkoreksi 3 persen dibandingkan dengan triwulan ketiga tahun lalu. Ini artinya untuk kedua kalinya pertumbuhan ekonomi Indonesia terkoreksi negatif.
Pada kuartal II, Badan Pusat Statistik menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 5,32 persen. Pertumbuhan negatif ini karena konsumsi rumah tangga yang lebih kurang minus 4 persen pada periode yang sama. Presiden menilai pemerintah memiliki kewajiban untuk memperkuat permintaan.
Presiden mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga dalam tren positif, karena lebih baik dibandingkan dengan tiga bulan sebelumnya. Selain itu Kondisi Indonesia lebih baik dibandingkan dengan negara lain.
Presiden melanjutkan bahwa kuartal terakhir tahun ini harus benar-benar dimanfaatkan. Realisasi belanja pemerintah harus berada pada titik yang paling maksimal.
“Hati-hati tolong disampaikan kepada Dirjen, Direktur, dan di seluruh jajaran yang Bapak Ibu pimpin, kuartal keempat bisa maksimal,” tutup Jokowi.








