
PeluangNews, Jakarta – Pemerintah sebaiknya mempercepat realisasi belanja negara untuk meningkatkan penyaluran kredit perbankan menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026.
Saran tersebut disampaikan Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, dikutip Selasa (27/1/2026).
Rizal mengatakan momentum perayaan hari besar umat Islam itu biasanya mampu mendorong permintaan kredit perbankan. Tetapi, tapi nilai penyaluran pada periode Ramadan dan Idulfitri pada 2026 diproyeksikan tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya.
“Penyaluran kredit perbankan menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026 diperkirakan masih mencatatkan pertumbuhan, meskipun tidak sekuat periode musiman pada tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya.
Permintaan kredit pada periode tersebut, kata dia, biasanya banyak didorong oleh kebutuhan konsumsi rumah tangga dan peningkatan aktivitas usaha, sehingga meningkatkan kredit pada segmen konsumsi dan pembiayaan perdagangan.
“Tetapi, peningkatannya berpotensi tertahan oleh sikap kehati-hatian perbankan dalam mengelola risiko, serta kecenderungan pelaku usaha dan masyarakat yang lebih berhitung dalam menambah kewajiban pembiayaan,” kata Rizal.
Menurutnya, permintaan kredit pada periode tersebut biasanya banyak didorong oleh kebutuhan konsumsi rumah tangga dan peningkatan aktivitas usaha, sehingga meningkatkan kredit pada segmen konsumsi dan pembiayaan perdagangan.
Di tengah penurunan tipis Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Desember 2025 menjadi 123,5 dari 124 pada bulan sebelumnya, serta kondisi daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, lanjutnya, kebijakan pemerintah berperan penting untuk perkuat permintaan kredit di kuartal I 2026.
Selain mempercepat realisasi belanja negara, kata dia, pemerintah juga perlu memperkuat program bantuan yang bersifat produktif serta meningkatkan dukungan fiskal bagi UMKM dan sektor usaha penyerap tenaga kerja agar dapat memperbaiki likuiditas dan prospek pendapatan masyarakat.
“Pada saat yang sama, koordinasi dengan otoritas moneter dan kebijakan makroprudensial perlu diarahkan untuk memberi ruang pembiayaan yang lebih kondusif bagi sektor produktif, sehingga pertumbuhan kredit tidak hanya bersifat temporer, tetapi berkontribusi pada pemulihan ekonomi yang lebih berkesinambungan,” tutur dia, berharap.
Dia menambahkan Bank Indonesia (BI) mengungkapkan kredit perbankan pada 2025 tumbuh sebesar 9,69% (year-on-year/yoy), masih berada dalam kisaran prakiraan Bank Indonesia yang sebesar 8-11% (yoy).
Berdasarkan kelompok penggunaan, pertumbuhan kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi pada 2025 masing-masing sebesar 21,06% (yoy), 4,52% (yoy), dan 6,58% (yoy).
Karena itu, BI mengajak para pelaku usaha untuk melakukan ekspansi atas usaha mereka dengan memanfaatkan fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) yang tercatat mencapai Rp2,44 kuadriliun pada Desember 2025, atau 22,12 persen dari plafon kredit yang tersedia. []








