TANGERANG-–Cerita orang miskin yang makan nasi campur garam ternyata masih ada di tahun ke 75 Kemerdekaan Indonesia. Tengoklah Ibu Nari, janda berusia 81 tahun yang hidup miskin, bersama dua anaknya Maman (44) dan Barudin (34) di Kampung Panyirapan, Cisauk, Tangerang, Banten.
Sehari-hari keluarga Ibu Nari makan seadanya saja. Mereka mengandalkan penghasilan Barudin yang usahanya menjual buah tangkil (melinjo), dengan penghasilan yang tidak seberap.
“Kalau hasil jualan itu tidak ada, kami makan nasi campur garam atau dari pemberian saudara maupun tetangga terdekat yang berbaik hati,” ujar Ibu Nari.
Nari adalah Ibu dari 5 orang anak, yang mana 3 orang diantaranya sudah menikah. Pada usia senjanya Nari hanya menjadi Ibu rumah tangga. Penyebabnya, sejak lama mengalami gangguan pendengaran akibat dahulu sering membawa padi di atas kepalanya dalam jarak yang sangat jauh, sempat sakit telinga dalam jangka waktu lama, sehingga sulit berkomunikasi dan menjalankan usaha.
Anak-anak Ibu Nari yang telah menikah adalah Enung, Enah dan Heri, juga masih jauh dari kata sejahtera. Dengan demikian mereka tidak bisa membantu.
Keadaan keluarga janda yang hidup dalam keprihatinan ini mendapat perhatian penuh dari Koperasi Syariah (Kopsyah) Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI). Pada Kamis 6 Agustus 2020, Kopsyah BMI memberikan hibah Rumah Siap Huni ke 72 kepada ibu ini.
“Kami sangat senang dan bersyukur kepada Allah SWT dan berterima kasih kepada Kopsyah BMI karena telah memberikan Hibah Rumah Siap Huni yang sangat layak dan nyaman,” ucap Nari.
Ketua Kopsyah BMI Kamaruddin Batubara dalam keterangan persnya menyampaikan, total biaya pembangunan Hibah Rumah Siap Huni yaitu sebesar Rp50 Juta. Dari jumlah itu infaq dari Keluarga Ibu Nari sebesar Rp500.000, dan kekurangannya dari Kopsyah BMI yakni sebesar Rp49.500.000.
“Tujuan koperasi bukan hanya untuk mensejaterahkan anggota, tetapi juga masyarakat kaum dhuafa, Barakalaah,” ucap Kamaruddin (van).








