TANGERANG—Tangis Maspiah (50) pecah. Ibu enam anak waga Kampung Btaununggul, Kelurahaan Sukatani, Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang ini menyaksikan peletakan batu pertama Hibah Rumah Siap Huni (HRSH) dari Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI) kepada dirinya, Rabu (10/2/21).
Dia tak henti-hentinya mengucapkan kata terima kasih atas kepedulian BMI kepadanya. “Terima kasih bapak-ibu dari BMI, bisa membantu saya,” ujarnya terbata-bata.
Kopsyah BMI bertekad merealiasikan 110 HRSH pada 2021 dan Maspiah salah stau penerima bantuan. Peletakan batu pertama dilakukan di tengah hujan yang mengguyur wilayah Sukatani. Sesi doa dilakukan di teras rumah warga setempat. Doa dan tawassul yang dipimpin Suami Maspiah, Wawan berjalan hikmat.
Selang sejam kemudian, acara peletakan batu pertama yang merupakan acara simbolis dilakukan setelah hujan mereda. Dimulai dari Kasi Ekbang Kecamatan Rajeg Udin, perwakilan Kelurahan Sukatani, Manajer Kopsyah BMI Cabang Rajeg Johaeriyah dan Ketua RT setempat, Sanjaya. Sementara dari Kopmen BMI yakni Supervisor DKTB Mansyur dan salah satu mandornya, Khusnul.
Penjual Sayur Keliling
Setiap hari Maspiah bekerja sebagai penjual sayuran keliling. Sejak subuh, ia sudah menjajakan dagangannya mulai dari Pasar Sukatani hingga Perumahan Walet, Pasar Kemis. Dengan berjalan kaki, hasil dagangan anggota BMI sejak pertengahan 2017 ini digunakan untuk menutupi kebutuhan hidup. Sementara sang suami Wawan sudah sembilan tahun tak bekerja.
Kondisi rumahnya sudah memprihatinkan. Dinding rumahnya tak lagi bilik bambu, melainkan terpal dari spanduk yang ia temukan di jalan. Beban semakin besar, setelah salah satu putrinya masuk ke jenjang sekolah SMA.
Manajer Ziswaf Kopsyah BMI Casmita mengatakan ini merupakan rumah HRSH kedua yang dibangun BMI pada 2021. Sebelumnya, BMI juga menghelat peletakan batu pertama di Desa Tanjakan, Rajeg. Kedua-duanya dibangun pada Februari.
“Total biaya pembangunan HRSH milik Bu Maspiah yaitu sebesar Rp 50juta yang kesemuanya berasal dari Koperasi BMI,” jelasnya.
Casmita mengatakan, biaya pembangunan berasal dari zakat, infaq dan sadaqah yang bersumber dari dana kebajikan (1 persen setiap pencairan pembiayaan). 50 persen dari 1 persen tersebut diperuntukkan untuk sosial pemberdayaan sementara 50 persen lagi dipakai untuk pengembangan diri atau Capacity Building.
“BMI mendesain bangunan baru untuk rumah Maspiah. Bahan bangunannya pun berkualitas karena berasal dari Toko Bangunan milik anggota Kopmen BMI. Di dalam rumah ini nanti disediakan dua kamar tidur, kamar mandi dan dapur,” paparnya.
Proses pembangunan ulang rumah Maspiah itu diperkirakan memakan waktu hingga sebulan. Waktu selama itu diharapkan sebelum Ramadan, Maspiah dan keluarga sudah menempati rumah dengan suasana baru.








