TANGSEL—Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI) menggandeng produsen filter air internasional Nasava. Kemitran ini membuahkan inovasi bernama filter air BMI.
Upaya ini merupakan tindak lanjut produk pembiayaan Mikro Tata Air (MTA) dan Mikro Tata Sanitasi (MTS). Kemitraan ini diumumkan dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun Buku 2020 di Tangerang, beberapa waktu lalu.
Keberadaan filter air ini bertujuan untuk memecahkan masalah sumber air baku yang kerap tercemar di Indonesia. Karena sudah tercemar, maka didihkan pun tidak akan efektif. Sementara untuk membeli air isi ulang galon harus merogoh kocek kantong lebih dalam.
Presiden Direktur BMI Kamaruddin Batubara menyampaikan, terobosan filter air BMI ini membantu anggota yang ingin menghemat pengeluaran biaya air galon kemasan dapat dihilangkan untuk menghemat biaya. Pasalnya, filter ini menggunakan sumber air langsung dari tanah atau PAM.
”Kemitraan bersama Nazava bertujuan memberikan fasilitas air minum yang murah kepada anggota kami, karena itu sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidupnya,” ujar pria yang karib disapa Kambara ini.
Filter air BMI yang dirancang Nazava membuat air mentah yang bisa diminum tanpa mesti dimasak terlebih dahulu. Filter ini tidak perlu menggunakan listrik bahkan baterai. Air yang keluar dari filter adalah 100 persen aman untuk diminum.
”Dengan mengunakan filter air BMI, hidup anggota menjadi senyaman hidup di negara maju, kita bisa minum air dari sumber apapun,” jelasnya.
Di bawah bendera PT Holland for Water, filter air yang dibuat Nazava dilengkapi dengan teknologi penyaringan keramik yang mampu secara efektif menyaring semua kotoran, bakteri maupun zat-zat terlarut yang berbahaya dari air. Dengan ukuran yang hanya 0,4 micron, hingga bakteri tidak bisa lewat.
Founder filter Nazava, Guido van Hofwegen mengatakan, nama Nazava diambil dari bahasa Arab yang berarti bersih. Teknologi filter Nazava menggunakan keramik. Filter tersebut juga dilengkapi dengan lapisan nano silver yang dapat membunuh bakteri.
Lapisan dari perak ini banyak dipakai pada peralatan rumah sakit sebagai langkah sterilisasi peralatan tersebut dari kuman dan bakteri. Filter juga sudah diuji lebih dari 30 laboratorium di dunia.
”Sebagai tambahan, karbon aktif dalam filter air yang kami produksi akan berfungsi sebagai pengikat zat kimia yang larut dalam air, menghilangkan bau tidak sedap, dan memperbaiki rasanya sekaligus sehingga air akan terasa lebih segar,” jelas Guido dalam keterangan tertulisnya, Jumat (29/1/21).
Menurut Guido jika dimasak, air baku (sungai, sumur, PDAM dan sebagainya ) perlu mendidih selama 3 menit. Merebus air sampai mendidih juga menggunakan LPG yang makin mahal. Jadi nazava tidak hanya meningkatkan kesehatan anggota BMI, tapi juga ramah kantong.
Filter air yang mengubah air sumur kotor, air keran/ PDAM, air hujan, dan air sungai menjadi air yang aman untuk diminum tanpa perlu direbus terlebih dahulu. Filter air keramik Nazava mampu menyaring 7000 liter atau setara dengan 350 galon isi ulang dengan estimasi waktu pemakaian antara 2 sampai 3 tahun.
Nazava didirikan pada 2009 untuk memenuhi kebutuhan air minum bersih di Aceh. Pada 2013 Nazava memenangkan Tech Award untuk teknologi yang memberi manfaat bagi Kemanusiaan di California, AS.
Pada 2016 Nazava memenangkan Penghargaan Ashden untuk teknologi ramah lingkungan. Sejak 2017 Nazava memproduksi semua bagian filter air inovatifnya di Indonesia.
Di sisi lain, Nazava adalah satu-satunya filter air minum dari Indonesia yang disertifikasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia. Filter air Nazava telah diuji oleh ITB, Unpad, dan beberapa laboratorium dari Departemen Kesehatan.








