Dalam ajang Award 100 Koperasi Besar Indonesia 2021, Kopsyah BMI dinobatkan sebagai Koperasi dengan IT Terbaik, CSR Terbaik, dan Podcast Terbaik. Penghargaan ini berkat kerja keras dan dukungan dari anggota dan pengelola koperasi.
Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI) merupakan salah satu koperasi inovatif yang pantas menjadi teladan dalam gerakan perkoperasian di Tanah Air. Saat masih banyak koperasi yang belum melek digital, Koperasi ini menggebrak dengan layanan digital seperti Doit BMI dan BMI Mobile. Selain itu, Koperasi ini juga kuat dengan visi pemberdayaan anggota dan masyarakat melalui aksi-aksi sosial dan lingkungan serta kemanusiaan yang tiada henti.
Gebrakan digital dan tanggung jawab sosial serta lingkungan yang dilakukan Koperasi yang dipimpin Kamaruddin Batubara ini mendapatkan apresiasi dalam ajang Award 100 Koperasi Besar Indonesia 2021. Tidak tanggung-tanggung, Kopsyah BMI menyabet tiga penghargaan sekaligus yaitu sebagai Kopersi dengan Teknologi Informasi (TI) Terbaik, CSR Terbaik, dan Konten Podcast Terbaik. Penghargaan diserahkan langsung oleh Menteri Koperasi dan UKM RI Teten Masduki di Ballroom Nareswara Smesco Indonesia, Jakarta.
Kamaruddin Batubara, biasa disapa Kambara, mengatakan tiga penghargaan bergengsi itu merupakan buah kerja keras anggota dan pengelola Kopsyah BMI .“Penghargaan ini saya persembahkan kepada seluruh anggota dan pengelola Koperasi BMI. Terima kasih saya haturkan kepada semua anggota dan pengelola BMI yang telah memberikan kinerja terbaiknya sehingga kita meraih 3 penghargaan atas kinerja tahun 2019. Mari terus kita tingkatkan dengan selalu kerja keras, sinergi dan saling percaya,” ujarnya.
Penghargaan IT Terbaik didasarkan pada beberapa aspek penilaian seperti memiliki website dan media sosial yang aktif dan interaktif. Kriteria ini penting karena berdasarkan data Kemenkop, dari 123.048 unit koperasi yang terdata hanya 906 unit atau 0,73 persen koperasi yang memiliki website.
Selain memiliki situs aktif dan interaktif, Kopsyah BMI juga sangat melek media sosial seperti Facebook dan Instagram. Postingannya pun bersifat informatif dan edukatif sehingga memberi manfaat bagi anggota dan masyarakat yang mengaksesnya.
Sementara kategori CSR terbaik didasarkan pada aspek antara lain keragaman bentuk kegiatan, cakupan wilayah kegiatan, dan dampak sosial dan lingkungan yang ditimbulkan, Penghargaan tanggung jawab sosial dan lingkungan ini sebagai penegasan bahwa Koperasi tidak hanya berorientasi profit semata tetapi juga harus memberi solusi pada problematika yang dihadapi anggota dan masyarakat.
Kamaruddin menambahkan, penghargaan ini menjadi bentuk konsistensi BMI sebagai koperasi berskala nasional dalam menjawab tantangan digitalisasi koperasi. Selain memenuhi kebutuhan anggota, BMI mampu menjalankan teknologi informasi dalam pemberdayaan sosial lewat zakat, infak, sodaqoh, dan wakaf (Ziswaf).
“Sementara di bidang digitalisasi, BMI melakukan sejumlah terobosan lewat dua aplikasi yang memudahkan anggota melakukan transaksi, yaitu Doit BMI berbasis web dan BMI Mobile, baik sebagai aplikasi pemenuhan kebutuhan anggota, pembayaran ziswaf hingga transaksi melalui simpanan sukarela. Semangat BMI tetap berinovasi untuk memenuhi kebutuhan dan pelayanan prima untuk anggota,” tegas Kambara.
Apresiasi Menteri
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dalam sambutannya mengapresiasi ajang Award 100 Koperasi Besar Indonesia tersebut. Menteri juga mengucapkan selamat kepada para penerima penghargaan dan berpesan untuk lebih termotivasi memberikan layanan terbaik bagi anggota.
”Acara penghargaan bagi 100 Koperasi Besar Indonesia ini menjadi nilai strategis ekonomi kita di tengah pandemi ini. Ekonomi kita terkontraksi di minus 5,2 persen (quartal pertama) dan kemudian membaik di minus 2,9 persen di kuartal ketiga dan optimistis membaik. Dan saya meminta gerakan koperasi saat ini mampu mendisiplinkan masyarakat agar mematuhi protokol Kesehatan dan meningkatkan kontribusi bagi perekonomian,” ungkap Teten.
Menteri menambahkan, ada kabar gembira bagi perkoperasian dimana dalam Undang-undang Cipta Kerja tidak ada lagi pajak sisa hasil usaha (SHU). Ini penting karena dapat meningkatkan pendapatan bagi koperasi yang ujung-ujungnya menggenjot kesejahteraan anggota.
Menteri juga menyoroti problem produktivitas koperasi. Dari 123.048 unit koperasi yang beraset Rp154,7 triliun dengan jumlah anggota 22 juta orang lebih namun kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) baru 5,1%. “Jadi saat ini tantanganya adalah bukan menambah jumlah koperasi melainkan menambah jumlah warga Indonesia untuk berkoperasi. Dengan agenda ini, menunjukkan bahwa koperasi Indonesia layak diperhitungkan jadi untuk koperasi yang 100 yang menang penghargaan ini saya kasih tugas untuk mengembangkan koperasi bersama pemerintah,” ungkapnya.
Menurut Kambara, digitalisasi bisa menjadi solusi atas problematika tersebut. Dengan digital, layanan koperasi dapat lebih cepat, mudah, aman, dan transparan. Hal ini dapat meningkatkan daya saing koperasi. “Koperasi BMI akan terus berinovasi mengembangkan layanan digital untuk memenuhi kebutuhan anggota dan selalu memberi solusi atas setiap problematika,” pungkasnya. (Kur)








