JAKARTA–Koperasi Karyawan GMF AeroAsia Sejahtera merilis pada Tahun Buku 2020 masih mampu meraup pendapatan sebesar Rp31,436 miliar. Dari jumlah itu koperasi ini masih mampu memberikan Simpanan Hasil Usaha (SHU) mencapai Rp1,7 miliar.
Jumlah itu turun dibanding Tahun Buku 2019 dimana Kopkar GMF mampu memperoleh pendapatan sebesar Rp53,093 miliar. Sementara SHU pada 2019 mendapatkan Rp4,261 miliar.
Bendahara Kopkar GMF AeroAsia Sejahtera Brian Harfiansyah mengungkapkan penurunan tersebut karena pandemi Covid-19 berdampak pada seluruh dunia termasuk Indonesia yang cukup serius.
“Kondisi seluruh industri aviasi memang sedang tidak bagus. Banyak airlines yang gulung tikar. Kita beruntung perusahaan masih mampu bertahan di tengah ujian ini,” ujar Brian ketika menyampaikan Laporan Pertanggungjawaban Pengurus dalam RAT Kopkar GMF Aeroasia Sejahtera, Jumat (9/4/21) yang dilaksankan secara daring. RAT ini dikuti oleh lebih dari 100 peserta yang mewakili 2.953 anggota.
Brian mengakui bahwa pendapatan yang terbesar masih disumbangkan bisnis dengan persero sebesar 51% dan Simpan Pinjam sebesar 47%. Sementara sisanya disumbangkan oleh ritel, seperti minimarket dan usaha lainnya.
Dalam menghadapi hal tersebut Kopkar memulai kerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) yang berada di bawah koordinasi Kementerian Koperasi dan UMKM.
Sementara Ketua Pengurus Kopkar GMF AeroAsia Sejahtera Yuyun Zaenudin mengatakan, ke depan pengurus merencanakan melakukan beberapa pengembangan bisnis. Di antaranya, Pengembangan Bisnis TMC Peningkatan Pasar dan bekerjasama dengan Partner Bidang Kesehatan (BPJS), penambahan Bisnis Mini Market dengan melibatkan anggota sebagai supplier utama, hingga mengakomodir anggota yang mempunyai bisnis UMKM.
Dalam RAT hadir, Direktur Utama PT. GMF AeroAsia Tbk, I Wayan Susena Dalam sambutannya dia mengapresiasi kinerja pengurus menjadi mitra penting bagi perseroan dan Kopkar termasuk sebagai salah satu dari 100 Koperasi Besar di Indonesia. Koperasi juga membantu memfasilitasi perseroan melakukan relaksasi potongan kepada bank.
“Kami juga mengapresiasi koperasi dipercaya oleh LPDB-KUMKM yang mengindikasikan bahwa koperasi termasuk tertib dalam administrasi dan kinerja,” ujar Susena
Sementara Kepala Pengawas Suhartono menyoroti bisnis masih bergantung pada peseroan. Ke depannya perlu dilakukan diversifikasi usaha. Di antaranya yang bisa dilakukan adalah produk simpan pinjam yang lebih menarik, misalnya untuk modal usaha. Juga perlu dibentuk semacam ad hoc khusus untuk diversifikasi bisnis.
“Tapi secara umum, kami memberikan apresiasi dalam kondisi berat masih ada SHU sebesar Rp1,7 miliar,” tutup dia (Van).








