
PeluangNews, Bogor-Kisah haru datang dari Kampung Sukadamai, Desa Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Di usia 66 tahun, Endang Sudarma—guru ngaji sederhana dengan penghasilan sekitar Rp50 ribu per minggu—akhirnya bisa kembali tersenyum setelah rumahnya yang roboh diterjang hujan dan angin kini berdiri kokoh. Bantuan tersebut merupakan bagian dari program Hibah Rumah Siap Huni (HRSH) ke-566 yang digulirkan Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Koperasi Syariah BMI).
Sebelumnya, Endang bersama istrinya, Nurhayati (56), dan dua anaknya yang belum menikah harus menghadapi kenyataan pahit ketika rumah lama mereka tak lagi bisa ditempati. Kondisi itu memicu kepedulian warga. Melalui koordinasi Ketua RW dan tokoh pemuda, pemerintah desa kemudian merekomendasikan bantuan kepada Koperasi Syariah BMI.
Tim ZISWAF koperasi bergerak cepat melakukan verifikasi. Karena kondisi dinilai mendesak, pembangunan rumah segera direalisasikan. Kini, hunian layak berdiri menggantikan bangunan yang sebelumnya roboh.
Direktur SDM Koperasi Syariah BMI, Akhmad Jauhari, yang hadir mewakili Presiden Direktur Koperasi BMI Group Kamaruddin Batubara, menegaskan bahwa gerakan sedekah rutin seperti GAS SITERU (Gerakan Sedekah Seminggu Tiga Ribu) menjadi salah satu kekuatan utama di balik ratusan rumah gratis yang telah dibangun.
“Infak kecil yang dilakukan secara konsisten bisa melahirkan karya besar. Inilah bukti nyata sedekah yang berdampak,” ujarnya di hadapan warga.
Apresiasi juga datang dari pemerintah setempat. Meigi Haerlin, Kasi Pemberdayaan Masyarakat Kecamatan Leuwiliang yang hadir mewakili Camat, menyampaikan penghargaan atas kontribusi sosial koperasi bagi warga.
Sementara itu, Eni Suherti dari Tim Pemeriksaan Koperasi mewakili Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Bogor menegaskan bahwa kiprah Koperasi Syariah BMI bukan sekadar wacana.
“Tidak hanya memberdayakan ekonomi anggota melalui layanan keuangan, tetapi juga menjalankan fungsi sosial yang nyata dirasakan masyarakat. Terlebih dilakukan di bulan Ramadan, ini menjadi investasi amal jariyah,” ujarnya.
Program HRSH ke-566 ini kembali menegaskan bahwa dana sosial yang dihimpun bukan sekadar angka, melainkan bisa berubah menjadi atap, dinding, dan ruang harapan baru bagi keluarga yang membutuhkan.
Bagi Endang, rumah itu bukan hanya tempat berteduh—tetapi simbol bahwa kepedulian dan gotong royong masih menjadi kekuatan terbesar di tengah masyarakat.








