Koperasi BMI terus menorehkan tinta emas dalam perjalanan sejarahnya dengan meraih sertifikat koperasi sehat dan dikukuhkannya aplikasi Doit BMI sebagai salah satu Pahlawan Digital UMKM 2020.
Koperasi membutuhkan dukungan anggota untuk memastikan usaha yang berkelanjutan. Kepercayaan anggota hanya akan tumbuh sejalan dengan perkembangan koperasi dalam segala aspek baik tata kelola, kelembagaan maupun kinerja keuangan. Dalam hal ini, Pemerintah memiliki standar untuk mengklasifikasikan tingkat kesehatan koperasi.
Kopsyah Benteng Mikro Indonesia (BMI) baru saja dikukuhkan sebagai salah satu koperasi sehat di Indonesia. Ini dibuktikan dengan diraihnya sertifikasi tingkat penilaian kesehatan koperasi dari Kementerian Koperasi dan UKM. Sertifikasi ini semakin meneguhkan bahwa Kopsyah BMI merupakan koperasi yang terus bertumbuh dan terpercaya.
Kamaruddin Batubara, Presiden Direktur Kopsyah BMI biasa disapa Kamabara mengatakan penilaian predikat koperasi sehat akan menjadi penyemangat bagi pengurus, pengawas dan karyawan untuk meningkatkan kinerjanya. “Alhamdulillah penilaian predikat koperasi sehat ini akan kami jadikan penyemangat bagi kita semua untuk mempertahankan bahkan meningkatkan kinerja. Semua ini terjadi tentu karena ada militansi pada koperasi yang bukan hanya terjadi pada pengurus, pengawas dan karyawan tetapi juga pada anggota. Hal inilah yang membuat koperasi ini semakin berkinerja baik dan sehat,” ungkap Kamabara.
Sekadar informasi, mengacu pada peraturan Deputi Bidang Pengawasan Kementerian Koperasi dan UKM RI No. 7/Per/Dep.6/IV/2016 tentang Pedoman Penilaian Kesehatan Koperasi Simpan Pinjam Dan Pembiayaan Syariah, ruang lingkup penilaian kesehatan KSPPS dan USPPS meliputi delapan hal yakni permodalan, kualitas aktiva produktif, manajemen, efisiensi, likuiditas, kemandirian dan pertumbuhan, jatidiri koperasi dan penerapan prinsip syariah.
Penyerahan sertifikat tersebut dilakukan oleh Ahmad Zabadi Deputi Bidang Pengawasan Kementerian Koperasi dan UKM. Dalam sambutannya Zabadi mengatakan, penilaian kesehatan koperasi merupakan pintu masuk bagi pengawasan koperasi di Indonesia. “Penilaian kesehatan koperasi adalah salah satu cara menilai secara anatomis tiga perspektif penting yaitu kepatuhan, kelembagaan dan performance atau kinerja koperasi. Tiga perspektif penting inilah pintu masuk bagi koperasi maupun orang atau lembaga yang berkepentingan terhadap koperasi, sehingga penilaian kesehatan koperasi adalah pintu masuk bagi pengawasan koperasi yang efektif,” ujar Zabadi.
Deputi juga menambahkan, bahwa unsur paling penting dalam kemajuan koperasi adalah sumber daya manusia (SDM). Ia memuji Koperasi BMI yang dinilainya saat ini menjadi role model bagi pengembangan koperasi Indonesia karena miliki SDM unggul.
Diraihnya sertifikasi koperasi sehat diyakini dapat semakin meningkatkan kepercayaan dan partisipasi anggota baik terhadap produk simpanan maupun pembiayaan. Terlebih di masa pandemi seperti sekarang, soliditas anggota sangat diperlukan untuk menjaga perkembangan usaha koperasi. Di sisi lain, masyarakat pun tidak perlu ragu untuk bergabung menjadi anggota Kopsyah BMI yang telah teruji dan terbukti kredibilitasnya.
Doit BMI Sebagai Pahlawan Digital UMKM 2020
Sejalan dengan diraihnya sertifikasi koperasi sehat, Kopsyah BMI pun tak henti berinovasi. Salah satunya dengan meluncurkan aplikasi pembayaran digital Doit BMI. Melalui aplikasi tersebut, seluruh anggota dalam melaksanakan transaksi nontunai di jaringan unit usaha Koperasi BMI. Sehingga pembayaran menjadi lebih praktis, mudah, aman, menguntungkan, dan berkah.
Sejak diluncurkan beberapa bulan silam, minat anggota untuk mengakses Doit BMI terus menanjak. Ini menandakan bahwa anggota Koperasi BMI memiliki semangat kemandirian, melek teknologi dan berpartisipasi aktif mendukung setiap inovasi yang dilakukan. Aplikasi ini memiliki semangat dari anggota, oleh anggota, dan untuk anggota sesuai dengan demokrasi ekonomi yang menjadi roh koperasi.
Meski masih baru, namun aplikasi doit BMI telah menorehkan tinta emas. Doit BMI termasuk 30 inovator digital terbaik yang terpilih untuk mengikuti pelatihan atau bootcamp program Pahlawan Digital UMKM 2020 yang diinisiasi oleh Putri Tanjung, Staf Khusus Presiden RI bekerja sama dengan Kementerian Koperasi dan UKM. .
Seperti diketahui, Pahlawan Digital UMKM 2020 adalah sebuah program yang hadir untuk memberi apresiasi kepada para inovator digital UMKM, sekaligus menjaring inovator muda lain yang sudah memulai inovasi untuk membantu UMKM. Tujuannya, untuk menemukan dan mendukung lebih banyak lagi tech startup, SaaS, dan/atau gerakan sosial yang bertujuan untuk membantu UMKM terdigitalisasi.
Doit BMI dipandang sebagai salah satu inovator yang membantu UMKM go digital. Selain itu, bersama dengan inovator terpilih lainnya, doit BMI akan membantu UMKM “naik kelas”. Hadirnya platform digital akan membantu UMKM untuk konsolidasi dan diagregasi agar lebih mudah terhubung ke market place.
Kamabara menambahkan, pengembangan inovasi digital yang diaplikasikan dalam sistem pelayanan dan pergerakan usaha di Koperasi BMI bermuara pada pemenuhan kebutuhan anggotanya.
“Semua berasal dari anggota, oleh anggota dan untuk anggota. Anggota sebagai pemilik, pengguna dan pengendali koperasi harus benar-benar diberdayakan dan diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam segala aspek. Doit BMI merupakan satu hal yang menunjang kemudahan anggota dalam pemenuhan kebutuhannya dengan bertransaksi di seluruh unit usaha Koperasi BMI. Kami sangat senang Doit BMI masuk 30 besar pada program ini, ” tegas Kamabara.
Kehadiran Doit BMI diyakini akan membentuk ekosistem ekonomi yang kuat dan solid, sehingga kesejahteraan anggota akan meningkat. Oleh karenanya, Koperasi BMI akan terus menggenjot penetrasi Doit BMI dalam setiap sistem pembayaran di seluruh unit usaha yang dikelola.
Wakaf Sawah Produktif
Kopsyah BMI terus mengaktualisasikan program-program pemerataan ekonomi melalui sejumlah instrumen seperti wakaf. Salah satu yang dikembangkan adalah wakaf sawah produktif. Gerakan kolektif wakaf ini ditujukan untuk membangun ketahanan pangan sebagai prasyarat kemandirian ekonomi.
Aksi wakaf sawah produktif dimulai dengan pembebasan lahan sawah seluas lima hektar di Desa Caringin, Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang. Bertempat di Balai Desa Caringin Kopsyah BMI mengadakan acara Sosialisasi Program Wakaf Sawah Profuktif untuk masyarakat sekaligus pemetaan lokasi yang akan dilanjutkan dengan pembagian luasan tanah garapan.
Secara konseptual, masyarakat yang akan menjadi penggarap sawah produktif berjumlah 20 orang dengan luasan tahap satu yang akan digarap warga seluas 5 ha. Sebelumnya mereka adalah petani penggarap dengan sistem pembagian hasil 1 bagian untuk yang menanam benih, 2 bagian untuk petani penggarap dan 2 bagian untuk pemilik lahan.
Nantinya, hasil dari tanah garapan akan dikembalikan seluruhnya untuk masyarakat. Rinciannya, hasil padi setelah dikurangi bagian yang menanam benih atau nandur, 65% untuk penggarap dan yang 35% akan dicatat masuk ke Kopsyah BMI tetapi alokasinya untuk sedelah warga sekitar. Perjanjian ini penting sebagai bukti komitmen pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Koperasi BMI memberi bukti bahwa komitmen kemandirian pangan tidak cukup hanya sebatas kata, tetapi harus mewujud dalam aksi konkret. Adanya pembagian hasil yang adil dan proporsional juga diyakini akan membuat masyarakat bersemangat dalam melaksanakan program tersebut.
Salah satu warga calon penggarap, Sanusi pada kesempatan itu menyampaikan rasa gembiranya karena awalnya dalam menggarap lahan sawah dia hanya mendapatkan 2 bagian atau 50% setelah dikurangi dengan tukang tanam. “Alhamdulillah jika nanti bagi hasil bagi kami 65% dan yang 35% juga akan dibagikan lagi dalam bentuk sedekah bagi warga sekitar. Mudah-mudahan musim tanam segera datang dengan datangnya musim hujan” ujarnya.
Ungkapan Sanusi yang juga mewakili petani penggarap lain merupakan contoh bahwa masyarakat di lapisan akar rumput mendambakan sistem pertanian yang adil dan berpihak kepada mereka. Sistem syariah yang diterapkan oleh Koperasi BMI tersebut ibarat mata air yang akan mengatasi dahaga berkepanjangan para petani.
Seperti sering disampaikan Kamabara dalam berbagai kesempatan, Koperasi sebagai alat pemerataan ekonomi harus hadir memberi solusi atas setiap problematika yang dihadapi masyarakat. Koperasi tidak boleh berdiri di atas menara gading, tetapi terlibat aktif dalam setiap dinamika sosial ekonomi.
Dalam kesempatan tersebut juga dibagikan Beras BMI kepada para peserta. Beras BMI adalah beras masyarakat yang dibeli langsung dari petani dalam bentuk gabah dan diolah dengan teknologi tepat guna. Beras BMI seperti slogannya Lebih Dari Sekadar Beras karena ada misi mulia yang diembannya yaitu pemerataan ekonomi.
Koperasi BMI telah, sedang, dan akan terus menjalankan peran sejarahnya sebagai role model pemberdayaan ekonomi anggota dan masyarakat untuk tujuan pembangunan yang lebih bermartabat dan berkeadilan. Ini merupakan salah satu bagian dari perintah Alquran untuk mewujudkan Islam Rahmatan Lil Alamin.








