ACEH BESAR—-Para perajin di Gampong (desa) Dayah Daboh, Kecamatan Montasik, Kabupaten Aceh Besar paham bahwa kalau bersatu itu mereka menjadi lebih kuat. Pada 1991, Ellyasari, salah seorang perajin menularkan ilmunya kepada tetangganya dan kemudian mengajaknya untuk bersama meningkatkan kualitas produk agar bisa dipasarkan ke luar Aceh.
Para perajin itu kemudian sepakat untuk mendirikan Koperasi Bordir Bungong Aceh. Kini dengan kekuatan 21 orang anggota mereka mampu menaungi 12 kelompok perajin di gampong itu. Setiap kelompok terdiri dari 15 hingga 12 orang.
Sekretaris Koperasi Bordir Bungong Aceh, Bety Haryati mengatakan bahan yang digunakan koperasi beragam mulai dari terpal, beludru, kanvas hingga kulit. Mereka membuat produk mulai dari gantungan kunci seharga Rp10 ribu, tas berkisar Rp165 ribu hingga Rp200 ribuan, hingga koper seharga Rp500 ribuan.
Produk Koperasi Bordir Bungong Aceh tidak saja diminati konsumen di Provinsi Aceh, tetapi juga mancanegara, seperti Thailand, Malaysia hingga Amerika Serikat. Sebelum pandemi setiap kelompok perajin mempunyai omzet rata-rata Rp10 juta per bulan.
“Ketika pandemi melanda, omzet kami terpangkas hingga 70 persen, hanya mendapat Rp3 juta per kelompok. Alhamdullillah masih bertahan, “ ujar Bety ketika dihubungi Peluang, Rabu (10/3/21).
Namun semangat koperasi tetap tinggi. Apalagi setelah lima tahun ini, koperasi dibina oleh Bank Indonesia.
“Ke depan kami berencana memperluas pasar ekspor dan meningkatkan kuantitas maupun kualitas produk dan mudah-mudahan pandemi berakhir,” tutup Bety (Van).








